Rabu, 19 November 2014

Minder



Rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput sendiri. Peribahasa ini seringkali kita dengar saat kita sedang membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Memang peribahasa ini banyak benarnya, sebab banyak orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya, namun justru mengingini segala yang tidak dia miliki. Namun pernakah kita berpikir, apakah peribahasa itu juga berlaku dengan orang yang sudah memiliki segala sesuatu dalam hidupnya. Jawabannya adalah berlaku, selama manusia tidak pernah mensyukuri apa yang dimilikinya. Jika benar kejadiannya seperti itu, kenapa kita tidak fokus pada rumput sendiri saja? Pasti ada sekelompok orang yang juga iri terhadap rumput kita.

Banyak orang yang tidak menyadari hal ini akan mengakibatkan seseorang memiliki rasa minder. Memang rasa minder ini akan susah dilawan bila kita tidak mengerti dan mengenal siapa diri kita sebenarnya. Mulai dari bentuk tubuh yang tidak ideal, tingkat ekonomi, status sosial, dll, banyak sekali yang bisa memicu munculnya sifat minder  dalam diri kita.

Secara umum, minder sebenarnya terjadi karena kita tidak tahu siapa diri kita, dan secara khusus kita tidak tahu apa rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Bapa kita di sorga, lalu buat apa kita minder, kita merupakan ciptaan yang paling mulia. Namun, dibalik semua itu, sebenarnya penyebab lain yang membuat minder adalah dosa. 

Roma 3:23
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Di dalam Tuhan tidak ada seorangpun yang minder, sebab mereka tahu bahwa mereka sempurna di mata Tuhan. Namun dosa telah menjauhkan manusia dari Tuhan. Kemuliaan Allah yang tinggal dalam hidup kita semakin menjauh dan terhalang oleh dosa, itulah yang membuat kita semakin tidak mengerti siapa diri kita dan apa rencana Tuhan dalam hidup kita. Kemuliaan Bapa kita yang selalu kita banggakan telah hilang dari diri kita, dan kita merasa tidak memiliki apa-apa.

Kita selalu melihat orang lain dan mendengarkan pendapat orang lain tentang hidup kita, hal ini tidak salah, sebab dapat menjadi bahan evaluasi kita. Namun yang salah adalah jika tidak kita imbangi dengan perkataan Firman Tuhan. Jangan hidup berdasarkan kata orang, namun berdasarkan kata Tuhan.

Sebagai anak Tuhan, kita memang dilarang minder, karena:

Yeremia 1:6
Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.

  • Org minder selalu banyak alasan. Maka jawablah: Yes Lord, i'm ready!!


Yeremia 1:7
Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

  • Minder dan iman tidak bisa jalan bersama. Yang harus kita lakukan adalah perintah Tuhan.


Yeremia 1:8
Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

  • Minder selalu ketakutan. Namun percayalah bahwa Tuhan menyertai kita.


Yeremia 1:9-10
Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam."

  • Orang minder tidak mengerti rencana Allah, padahal Tuhan selalu memberikan kita kekuatan untuk menjalani segala perintah Tuhan.

Alasan-alasan di atas sebenarnya terjadi karena kurangnya kepercayaan kepada Tuhan, padahal diri kita selalu ditopang oleh kekuatan Tuhan. Kita selalu melihat dunia dan kepekaan diri kita akan kehadiran Tuhan semakin samar. Maka dari itu, kunci yang terpenting adalah selalu menyediakan waktu bersekutu dengan Tuhan. Sediakan waktu membaca Firman Tuhan, berdoa, dan selalu ada waktu khusus untuk menjaga keintiman kita dengan Tuhan.


Selalu ada kekuatan, jawaban, dan jalan keluar dari setiap kali kita merenungkannya

Senin, 20 Oktober 2014

Dosa yang tidak disadari



     KUSADARI KINI KU JAUH DARI KASIH-MU
     KUAKUI SEGALA DOSA DAN SALAHKU
     INI AKU DATANG PADA-MU, AMPUNIKU
          DAN KAU ANGKATKU, LUPAKAN DOSAKU
          KAU JADIKANKU SAHABAT KARIB-MU
          KAU PULIHKAN AKU, MENUNTUN LANGKAHKU
          KAU JADIKANKU KEKASIH YANG SANGAT BERHARGA BAGI-MU

Syair di atas adalah sebuah lirik lagu yang berjudul “Berharga BagiMu”. Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan lagu ini, dan saya merasa tersentuh dengan lirik lagu ini. Dalam lagu ini dinyanyikan bahwa kita baru menyadari bahwa kita jauh dari Tuhan dan banyak sekali dosa yang kita lakukan. Namun Tuhan tetap mau mengangkat kita dan menjadikan kita sahabat-Nya, sebab kita berharga bagi Dia.

Seringkali kita mengalami hal seperti itu, kita saat teduh setiap hari, berbuat baik pada orang lain, menyumbang fakir miskin, dan lain-lain. Kita merasa sudah melakukan banyak kehendak Tuhan, namun sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita telah jauh dari kasih Tuhan.

Mazmur 19:13
Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.

Daud juga menyadari fenomena ini dalam kehidupan manusia. Daud memohon kepada Tuhan untuk menjauhkannya dari dosa dan kesalahan yang sering muncul saat kita tidak sadar. Manusia menmang hanyalah sekumpulan daging yang tidak mungkin bisa lepas sepenuhnya dari dosa, namun dengan pengetahuan dan bimbingan dari Tuhan, tentu dosa itu bisa kita lepas dari hidup kita.

Dosa yang tidak kita sadari secara perlahan akan menggerogoti hubungan kita dengan Tuhan, maka dari itu penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap segala yang kita lakukan.

Kidung Agung 2:15
Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!

Yakobus 1:15
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

Mintalah hikmat kepada Tuhan, maka hidup kita akan lebih dekat dengan kasih Tuhan. Hiduplah dengan mengandalkan Tuhan setiap waktu, dan selalu berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan setiap kita mau bertindak. Selalu introspeksi diri setiap saat, maka itu akan membantu kita untuk menghindari dosa yang sering tidak kita sadari.


“Dosa sekecil apapun mendatangkan maut dan itu tidak disukai Tuhan.”

Rabu, 08 Oktober 2014

Tidak Perlu Bertengkar



Yakobus 4:1-10

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Setiap hari selalu ada saja berita tentang pertengkaran atau perselisihan, dan tidak jarang kita juga terlibat dengan pertengkaran tersebut. Memang tidak selalu berupa pertengkaran yang besar, namun yang namanya pertengkaran, di mata Tuhan tetap sama.

Dalam bacaan Firman Tuhan di atas, disebutkan bahwa pertengkaran pasti berasal dari pemuasan hawa nafsu. Setiap orang yang egois akan hawa nafsu pribadi akan saling memperjuangkan kepuasannya sendiri-sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya pertengkaran. Tidak hanya kepuasan pribadi, sekelompok orang yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu juga akan dapat memicu pertengkaran, bahkan dalam skala yang lebih besar, akan menimbulkan perang.

Tuhan tidak pernah mengajarkan pertengkaran dalam menyelesaikan setiap masalah, Tuhan selalu mengajarkan perdamaian, sebab dengan berdamai semua masalah akan ditemukan solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak. Hawa nafsu memang egois dan mementingkan diri sendiri, tetapi percuma bila suatu masalah terselesaikan dengan cara yang tidak baik, sebab akan menimbulkan masalah-masalah berikutnya.

Pertengkaran membutuhkan harga yang mahal. Dalam peperangan khususnya, banyak nyawa yang menjadi korban. Memang kelompok yang menang akan bersorak-sorai, namun dibalik semua itu aka nada dukacita yang mendalam bagi orang-orang yang menjadi korban akan kemenangan itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sama, pertengkaran akan membutuhkan harga yang mahal untuk dibayar. Persahabatan kita akan hancur, relasi ktia berkurang, bahkan nama baik kita juga dipertaruhkan.

Marilah hidup berdamai dan dengan rendah hati kita mengutamakan solusi bersama untuk menghadapi setiap masalah. Hawa nafsu tidak akan pernah menyeesaikan masalah, yang ada hanyalah membuat sederet masalah yang tidak akan pernah selesai.


“Tidak ada pihak yang benar dalam suatu pertengkaran, yang benar adalah pihak yang dengan rendah hati meminta maaf kepada pihak yang lain.”

Kamis, 02 Oktober 2014

Periksa Nada Bicara kita



Kolose 4:2-6
Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya. Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Kali ini kita akan membahas sedikit tentang bagaimana cara kita berbicara dalam kehidupan sehari-hari kita. Seringkali terdengar ungkapan “mulutmu harimaumu”, yang berarti bahwa mulut kita bisa mendatangkan celaka. Mulut dipercaya memiliki kuasa yang mampu mendatangkan hal-hal besar. Namun bila kita melihat sebaliknya, berarti mulut kita juga mampu menjadi berkat bagi orang lain. Dalam Kolose 4:6, Paulus menuliskan bahwa kata-kata kita haruslah penuh dengan kasih, sehingga tidak hambar, maka kita akan mengerti bagaimana cara berbincang-bincang yang baik dengan orang lain.

Mulut memang sering menjadi sumber dari segala masalah, khususnya nada bicara yang selalu menyebabkan banyaknya salah paham. Di suatu saat kita pasti akan mengucapkan kata-kata dengan nada-nada yang berbeda, tentu saja nada bicara itu akan dapat kita kontrol saat kita dalam keadaan tenang. Namun pada saat tertentu, kita biasanya akan keceplosan untuk berbicara dengan nada-nada yang tidak enak didengar. Hal ini seringkali membuat orang lain sakit hati, dan menilai diri kita beda dari keadaan kita yang seharusnya. Memang sepintas tidak menjadi masalah berarti bagi kita, tetapi bagaimana bila kita sebagai orang Kristen sering melakukan hal ini, tentu saja yang terkena masalah adalah nilai-nilai Kristen kita.

Terdapat sebuah ilustrasi mengenai seorang pemimpin perusahaan yang sedang memotivasi 2 orang karyawannya melalui SMS. Dalam pesan singkatnya, kurang lebih berbunyi  demikian, “Saat ini sudah akhir bulan, targetmu masih belum tercapai. Masih ada waktu, kamu masih bisa tambah orderan.” Karyawan pertama yang menerima pesan singkat ini merasa semakin tertekan, sebab saat itu dia merasa atasannya menagih targetnya. Namun berbeda dengan karyawan yang kedua. Justru karyawan kedua semakin termotivasi, sebab dia berpikir bahwa atasannya sedang memberi semangat kepada dirinya karena sudah hampir mencapai target.

Memang dalam ilustrasi tersebut sang pemimpin hanya berkata-kata melalui tulisan, sehingga tidak ada nada bicara yang terdengar oleh kedua orang karyawannya itu. Tetapi melalui hal ini kita dapat melihat bahwa keadaan orang lain bisa berbeda saat menerima berbagai ucapan dari mulut kita. Maka dari itu, sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk menanggapi segala pembicaraan kita dengan penuh kasih, sehingga kita tidak salah saat memberi jawaban pada orang lain.

Sebagai orang Kristen, hendaklah kita memiliki cara berbicara yang berbeda dengan orang dunia, yaitu dengan adanya kasih dalam setiap ucapan kita. Memang tidak mudah, namun itu bisa kita lakukan, asal kita selalu sadar identitas diri kita sebagai anak Tuhan.


“Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita selalu mencerminkan isi hati kita.”

Senin, 29 September 2014

Hidup dalam Kekudusan


Galatia 5:16-21
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Hidup kudus memiliki banyak pengertian di dalam dunia ini. Banyak sekali standard yang dibuat oleh manusia untuk mengartikan arti kekudusan. Namun bila berdasarkan Firman Tuhan, kudus berarti hidup sesuai dengan keinginan Roh, dan tidak akan menuruti keinginan daging.

1 Timotius 4:12
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan pengertian yang mudah dimengerti dalam mengartikan hidup kudus, yaitu:
1.      Moral Purity
Yaitu kemurnian nilai moral di kehidupan kita. Nilai moral ini meliputi pengendalian hawa nafsu (umumnya dalam hal seksual), kejujuran (umumnya dalam keuangan), dan komitmen dalam hidup pribadi dengan Tuhan.
2.      Self Identity
Kita harus memiliki identitas diri sebagai milik Tuhan. Hidup kita bukanlah milik kita sendiri, maka kita harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup harus menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataan, perbuatan, kasih, dan dalam kekudusan.

Hidup kudus bukanlah hal yang mudah, seringkali terdengar kesaksian mengenai orang-orang yang jatuh saat mencoba untuk hidup kudus. Kebanyakan orang akhirnya jatuh pada saat muncul godaan di saat kehidupan pribadinya dengan Tuhan sudah jenuh. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, jenuh berarti bosan karena melakukan pekerjaan berulang-ulang dalam waktu yang lama. Hal ini salah, sebab itu berarti banyak orang menganggap hidup kudus adalah pekerjaan atau kewajiban agama, padahal seharusnya hidup kudus dilakukan karena kita sadar akan identitas kita sebagai milik Tuhan.

1 Petrus 2:9-10
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Bagaimana kita bisa hidup kudus, bila kita tidak sadar Tuhan ada dalam hidup kita? Bagaimana kita bisa hidup kudus bila kita tidak sadar kalau Tuhan mencintai kita dan kita mencintai Tuhan? Bagaimana kita bisa hidup kudus apabila kita tidak tahu bahwa hidup ini bukanlah milik kita?

Untuk hidup kudus, kita harus mau menyangkal diri sendiri, sebab diri kita adalah daging, dan itu bertentangan dengan Roh. Lalu kita juga harus mengenal Tuhan dan kasih-Nya dalam hidup kita, maka dari itu selalu mendekatlah pada Tuhan. Dan yang terakhir kita harus menyerahkan hak-hak kita ke dalam Tuhan, yaitu dengan menyandarkan seluruh hidup kita kepada-Nya.


“Kudus memang menyiksa kedagingan kita, tetapi memuaskan kebatinan kita”

Jumat, 26 September 2014

Kisah Dua Tongkat



Hakim-hakim 3:31
Sesudah dia, bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. Demikianlah ia juga menyelamatkan orang Israel.
Keluaran 4:17
Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat."

Tongkat adalah suatu barang biasa yang bisa kita dapatkan di mana saja, bahkan tidak sedikit tongkat yang dibuang-buang oleh pemiliknya. Namun dalam Firman Tuhan pernah dikisahkan tentang dua tongkat yang tercatat menjadi alat yang sangat berguna.

Tongkat Musa yang digunakan untuk melakukan banyak sekali mujizat untuk membebaskan bangsa Israel dari jajahan bangsa Mesir, menjadi sangat berguna karena Tuhan menyertai Musa. Tuhan memakai tongkat yang selama ini hanya berguna untuk menggembalakan domba, menjadi alat yang sangat berharga bagi bangsa Israel. Di lain kisah, terdapat seseorang bernama Samgar yang menggunakan tongkat juga untuk berperang melawan 600 orang Filistin. Tongkat penghalau lembu diberkati Tuhan dan menjadi senjata untuk mengalahkan banyak tentara Filistin.

Bila kita mencari di kehidupan kita sendiri, sebenarnya banyak sekali hal-hal kecil yang menjadi luar biasa karena kuasa Tuhan. Logika tidak akan mampu menjelaskan kuasa Tuhan. Tongkat yang dipandang sebelah mata oleh banyak orang, dapat berubah menjadi barang yang sangat berharga bila Tuhan berkehendak.

Berapa banyak dalam hal kecil yang kita anggap tidak berguna di kehidupan kita? Jangan pernah sia-siakan yang kita miiki, baik itu harta benda, kelebihan dan kekurangan kita, bahkan orang-orang di sekitar kita. Persembahkanlah kepada Tuhan segala sesuatu dalam hidupmu, maka Tuhan akan bekerja melalui hal-hal kecil itu untuk menjadikan hidup kita luar biasa.

Tugas kita adalah mengerjakan seluruh bagian kita dengan berserah kepada Tuhan seperti Musa dan Samgar. Tuhanlah yang akan memberikan tongkat-tongkat lain kepada kita untuk menghasilkan karya Tuhan yang sempurna.

“Yang sedikit menjadi banyak, ketika Tuhan ada di dalamnya”

Senin, 01 September 2014

Kejadianku Ajaib dan Dahsyat



Mazmur 139:1-14
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. 
TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. 
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. 
Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Pujian dan ucapan syukur yang sangat indah dari seorang Daud yang begitu mengagungkan Tuhan. Tuhan begitu dipuja dalam kehidupannya. Tentu saja hal ini tidak terjadi begitu saja, namun karena Daud memang sudah merasakan berkat yang luar biasa dalam kehidupannya. Dalam Mazmur 139:14, Daud menyebutkan bahwa kejadian yang terjadi dalam hidupnya begitu dahsyat dan ajaib, dan yang terpenting adalah jiwanya pun menyadari bahwa keajaiban itu berasal dari Tuhan.

Banyak dari kita yang sering merasa bahwa banyak orang yang lebih hebat dari diri kita sendiri. Pasti akhirnya kita akan menemukan kehebatan orang lain yang seringkali tidak kita miliki. Itu adalah hal yang wajar, sebab kita diciptakan menjadi diri kita sendiri, bukan diri orang lain. Namun pernakah anda berpikir, bahwa juga banyak orang yang iri terhadap kehidupan anda? Berapa banyak orang yang ingin menjadi seperti anda? Mengapa kita tidak bersyukur seperti Daud yang begitu memuji Tuhan sebab segala yang sudah terjadi dalam hidupnya.

Tuhan membuat kita sempurna, dan tidak ada yang dapat menyamai kita. Kejadian dalam hidup kita begitu ajaib dan dahsyat. Tuhan menyusun kita dari komponen-komponen kecil dan begitu detail dari hal sekecil apapun. Mulai dari sel-sel kecil hingga membentuk tubuh kita sedemikian rupa. Bahkan manusia yang kembar identik pun memiliki DNA yang berbeda satu sama lain. Maka dari itu, jangan pernah berusaha menjadi orang lain, sebab anda tidak akan bisa menjadi orang lain bagaimanapun kuatnya anda berusaha. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi diri kita sendiri.

"Diri kita adalah karya terbaik Tuhan, tidak akan ada diri kita yang lebih indah di dunia ini."