Rabu, 24 Juni 2015

Zona Nyaman



Yosua 1:6-9
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Dua tahun yang lalu, saya sangat antusias ketika bermimpi untuk membuka usaha baru. Saya memiliki mimpi-mimpi besar seperti yang dijanjikan Tuhan. Tetapi itu hanyalah permulaan saja, pada saat seminggu sebelum hari pertama saya bekerja secara mandiri di usaha saya sendiri, muncul perasaan yang sangat tidak enak. Saya khawatir, takut, galau, dan berbagai macam perasaan negatif, bahkan muncul perasaan bahwa saya telah salah langkah dalam mengambil keputusan tersebut. Tetapi puji Tuhan, saya mampu melewatinya, dan sekarang saya sudah menikmati hasil dan janji-janji besar dari Tuhan.

Mungkin perasaan ini juga dialami oleh Yosua. Semula dia adalah seorang asisten dari Musa, orang kepercayaam Tuhan. Hidupnya bisa dibilang sudah enak, dan punya jabatan yang baik. Tetapi Tuhan punya rencana yang lebih baik bagi kualitas hidupnya. Tuhan ingin menjadikan Yosua pemimpin bagi bangsa Israel untuk menuju tanah perjanjian. Saya yakin Yosua sangat antusias menerima panggilan Tuhan, tetapi di dalam pikirannya pasti Yosua juga merasakan khawatir dan ketakutan yang luar biasa, sebab dari yang sebelumnya hidupnya sudah di posisi yang nyaman, kini harus menjadi pemimpin menggantikan Musa, yang pastinya memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Zona nyaman selalu susah untuk ditinggalkan. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak menyukai zona nyaman, sebab itulah kodrat manusia, yaitu selalu ingin hidup tanpa tantangan. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk tinggal dalam zona nyaman kita, tetapi Tuhan selalu memiliki tingkat kualitas yang lebih besar bagi kehidupan kita. Dan untuk mencapai tingkat tersebut, saat itulah Tuhan mengharuskan kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman kita.

Yosua yang adalah pemimpin besar pun takut saat melangkah keluar dari zona nyamannya, dan Tuhan mengetahuinya. Maka dari itu dalam bacaan di atas, Tuhan mengatakan "kuatkan dan teguhkanlah hatimu" kepada Yosua sampai tiga kali. Yosua dan kita pasti mengerti bahwa tujuan kita adalah hal yang sangat baik bagi kita, namun ketakutan saat menjalankannya yang sering membuat kita ragu. Tuhan hanya mengingatkan agar kita selalu bersandar kepada-Nya, tetapi Tuhan tidak menjelaskan secara rinci bagaimana Dia akan menolong kita dalam setiap tantangan yang akan kita hadapi. Di sanalah iman kita diuji, yakinkah kita akan pertolongan Tuhan? Atau justru kita memilih untuk mundur dari jalan yang sudah disiapkan Tuhan?

Daging kita memang lemah dan akan selalu membuat kita ketakutan, tetapi saat kita mampu mengalahkannya, dan memiliki iman kepada Tuhan, maka saat itulah Tuhan dapat bekerja. 

Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Janji Tuhan mungkin hanya berupa angan-angan dan harapan yang menurut kita tidak bisa kita harapkan, Tetapi dengan iman, kita dapat meyakini bahwa janji Tuhan dapat terwujud. Kita tidak akan naik level saat kita selalu menyerah kepada daging dan tinggal dalam zona nyaman terus menerus. Tetapi kita akan merasakan kepuasan saat kita sadar bahwa kita sudah mengalahkan daging, dan kita sedang menikmati janji Tuhan yang semula kita rasa adalah hal yang mustahil.

" Zona nyaman memang enak, 
tetapi belum tentu aman untuk masa depan kita "

Rabu, 06 Mei 2015

Positive Thinking



Pernah ada seorang rekan berdiskusi dengan saya tentang berpikir untuk masa depan, atau dengan kata lain tentang prasangka. Rekan saya ini berkata bahwa dia selalu berpikir tentang hal terburuk yang akan terjadi, sedangkan saya selalu mengutamakan berpikir positif. Dia berkata bahwa penting untuk mengantisipasi segala hal yang terjadi. Menurutnya bila selalu berpikir positif, kita tidak akan siap bila harus menghadapi kegagalan.

Manakah dari pemikiran tersebut yang benar? Terlalu berpikir positif memang susah diterapkan di dunia modern ini. Mengantisipasi memang perlu dilakukan, meskipun kita sudah berpikir positif, sebab bila tidak, itu sama saja berlaku dengan sembrono.

Ayub 3:25
Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.

Berpikir negatif memiliki banyak hal buruk di dalamnya. Pertama, berpikir negatif hanya merusak diri sendiri, sebab yang ada di pikiran kita hanyalah kegagalan, kesalahan, keburukan, dan sebagainya. Tentu ini tidak sehat bila ada terus menerus dalam pikiran kita. Bahkan banyak orang tua kita juga sering mengatakan bahwa janganlah kita berpikir buruk, nanti akan benar-benar kejadian. Hal ini serupa dengan yang dituliskan dalam kitab Ayub.

1 Korintus 13:7
..., (kasih) percaya segala sesuatu, ... 

Dan yang kedua adalah membuang kesempatan yang datang, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Saat kita dihadapkan dengan kesempatan dan kita tidak mengambilnya karena pikiran-pikiran jelek kita, maka saat itu kita sudah melewatkan kesempatan yang belum tentu akan datang lagi pada hidup kita. Apalagi bila yang dihadapkan kepada kita adalah orang yang harus kita percayai atau tidak, dan kita langsung menolaknya, maka saat itu kita juga sudah menghilangkan kesempatan orang tersebut. Salah satu sifat anak Tuhan adalah memiliki kasih, dan salah satu sifat kasih adalah percaya segala sesuatu.

Positive thinking bagi saya bukanlah pertanyaan tentang penting atau tidak, namun merupakan keharusan, sebab semua yang dihadapkan kepada kita adalah rencana yang sudah Tuhan persiapkan bagi kita. Memang antisipasi selalu perlu kita lakukan, tetapi bukan berarti kita mempersiapkan antisipasi karena kita takut, melainkan karena kita butuh hasil yang lebih baik, Hidup dengan berpikir positif harus disertai dengan hikmat Tuhan, agar kita selalu siap menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan ini.

"Positive thinking akan membuka kesempatan-kesempatan yang hilang"

Kamis, 16 April 2015

Mengemudi



Perjalanan dalam kehidupan dapat kita analogikan dengan kegiatan mengemudi.
  • Kemudi / setir harus kita kendalikan sendiri. Sebab saat banyak yang memegang kemudi kita, kehidupan kita akan kacau, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan kecelakaan.
  • Saat mengemudi, yang terpenting adalah melihat ke depan. Saat kita berjalan lurus, yang perlu kita lihat adalah ke arah yang kita tuju. Itulah sebabnya mengapa kaca di depan mobil kita memiliki ukuran yang lebih besar dibanding kaca yang lain.
  • Kaca spion selalu dibuat dengan ukuran kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak selamanya boleh melihat ke belakang. Spion hanyalah alat bantu agar kita dapat pindah lajur dan berbelok untuk menghadapi masalah yang ada di depan kita.
  • Walaupun spion sepertinya kecil dan tidak diperlukan, sebetulnya spion tetap merupakan hal yang penting. Melihat ke belakang atau masa lalu itu boleh, tapi hanya untuk referensi kita dalam menghadapi masa depan. Bahkan banyak kecelakaan terjadi karena banyak orang tidak melihat spion. Tetapi ingat, spion hanya untuk referensi, bukan untuk selamanya melihat ke belakang, fokus kita tetaplah masa depan.
  • Gas dan rem adalah instrumen penting dalam sebuah kendaraan. Sebab tidak ada gunanya mobil bila tidak bisa melaju, dan akan sangat berbahaya saat mobil yang terlalu cepat dalam melaju tidak bisa berhenti. Kehidupan juga seperti itu, dalam melaju ada saatnya kita butuh kecepatan penuh, tetapi itu akan membuat kita terjatuh dalam sifat individual dan ambisius. Dibutuhkan rem untuk menghentikan ambisi kita, dan lebih mempedulikan yang lain. Kecepatan penuh memang dapat mempercepat laju kita, tetapi juga sangat berbahaya.
  • Master brake / hand rem harus digunakan saat sedang parkir, apalagi bila tempat parkir kita bukanlah tempat datar. Ada saatnya kita harus berhenti di suatu titik dalam hidup kita, seperti menikmati posisi pekerjaan kita sekarang, menikmati masa-masa liburan, dan sebagainya. Hal ini menyenangkan, sebab seakan kita tidak perlu melakukan apa-apa, tetapi bila kita tidak memasang rem dalam kehidupan kita, bisa-bisa kita tidak hanya parkir, melainkan malah membuat kehidupan kita mundur dari tempat parkir kita. 
  • Rambu-rambu dan lampu lalu lintas selalu saja kita temui di setiap jalan. Semakin besar jalan raya itu, semakin banyak rambu-rambu lalu lintas. Mungkin kita sering merasa bahwa semakin dewasa ini, semakin banyak aturan-aturan yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan kita. Itu tandanya bahwa kehidupan kita semakin berkembang. Tetapi tentu saja aturan-aturan itu dibuat bukan untuk membatasi laju kehidupan kita, melainkan untuk mengatur pola dan tingkat kehidupan kita.
Perjalanan memang selalu memiliki tantangan tersendiri, kadang hujan, kadang panas, kadang macet, bahkan mengantuk pun bisa menjadi halangan. Maka dari itu kita perlu sigap dan selalu siap dalam menyetir. Begitupun dengan menjalani kehidupan. Bersandarlah pada Tuhan setiap saat, sebab tantangan akan selalu muncul untuk menghalangi laju kehidupan kita.

Mazmur 121:7-8
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Tersesat adalah hal yang biasa, tetapi mampukah kita 
menemukan kembali jalan yang benar?

Minggu, 12 April 2015

Perlukah alasan untuk menolong?



Pada saat saya kuliah, saya pernah diberi kesempatan untuk study tour ke suatu gedung perkantoran. Setelah selesai, saya berencana untuk kembali ke kampus bersama seorang teman. Saat sedang menuruni lift, kami berpapasan dengan seorang bapak yang tidak kami kenal. Bapak itu cukup ramah dan mengajak kami berbicara, dan dia menanyakan kami dari universitas mana, sebab kami saat itu memang sedang memakai jas almamater. Singkat cerita dia mengetahui kalau kami sedang menuju ke kampus, dan dia berniat untuk menumpang mobil saya, dan turun di halte yang akan kami lewati. Tanpa pikir panjang, saya perbolehkan bapak itu untuk menumpang. Kami pun berangkat, dan sampai di halte, bapak itu pun turun dan berterima kasih. Sesaat setelah bapak itu turun, teman saya dengan cepat memeriksa kursi belakang kami, dia mencari-cari sesuatu, dan akhirnya tidak menemukan apa-apa, dan teman saya berkata, "Hati-hati dengan orang seperti itu, yang ditakutkan itu kalau dia meninggalkan barang-barang yang berbahaya."

Memang dewasa ini jaman sudah berubah, semua orang memiliki sifat yang serba berhati-hati. Prasangka buruk terhadap orang lain selalu muncul hampir dalam pikiran kita. Justru saat kita terlalu baik terhadap seseorang, justru kita dianggap bodoh, dimanfaatkan, lugu, ceroboh, mudah ditipu, dan sebagainya. Ada orang yang berpendapat bahwa tidak semua orang patut ditolong, kadang justru ada orang yang berpura-pura untuk ditolong. Namun bila kita berpikiran seperti itu, lalu bagaimana saat ada orang yang benar-benar butuh ditolong, namun tidak kita tolong. Saat kita ingin berbakti sosial dengan menyumbang ke panti asuhan, biasanya kita mengajak teman-teman kita untuk bergabung, tetapi pasti selalu ada yang bilang, "panti asuhan itu sudah kaya, banyak yang menyumbang." Kalimat ini tentu sudah biasa dan tidak jarang kita dengar.

Kisah Para Rasul 4:32
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Dalam kehidupan jemaat mula-mula, semua memiliki pemikiran bahwa mereka harus berbagi. Itulah wujud kasih yang ditampilkan pada cara hidup berjemaat yang pertama. Apakah saat itu tidak ada pemikiran yang negatif menanggapi hal tersebut? Tentu ada, sebab yang namanya manusia pasti akan memiliki sifat duniawi yang akan selalu menentang cara hidup yang benar. Namun dengan hidup berkelompok dengan komunitas yang baik, sifat duniawi tentu akan semakin mudah ditekan. Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan kita di jaman sekarang.

Memang dibutuhkan hikmat agar kita mampu mengerti apa yang baik dan yang benar, dan ini berlaku juga saat kita memberikan pertolongan kepada orang lain, siapakah yang butuh dan layak kita tolong. Tetapi percayalah bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia (1 Kor 15:58). Dalam setiap melakukan kegiatan, landaskanlah semuanya itu untuk Tuhan.

"Walaupun kita salah langkah, Tuhan mampu memakai kesalahan kita
menjadi berkat yang tidak terduga sehingga tidak akan ada hal yang sia-sia"

Rabu, 18 Maret 2015

Sabar Tanpa Batas




"Cukup sudah, habis kesabaranku!!"
"Sesabar-sabarnya orang, kesabaran itu ada batasnya!!"
"Aku sudah tidak bisa sabar lagi, ini sudah keterlaluan!!"

Mungkin ungkapan-ungkapan itu tidak jarang hinggap dalam hidup kita, entah karena kita mendengar dari orang lain, atau justru kita sendiri yang mengucapkannya. Sabar adalah suatu topik yang cukup menarik bagi saya, sebab sabar disebutkan pertama kali sebagai arti kata dari kasih (1 Korintus 13:4). Hal ini membuat saya selalu mengingat bahwa definisi yang pertama dari kasih adalah sabar. Namun tidak pernah ada Firman Tuhan yang menyatakan tentang batas-batas kesabaran, hal ini yang sering menjadi alasan bagi banyak orang untuk meraba-raba bahwa sabar harus dibatasi.

Mazmur 103:8
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Amsal 14:17
Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

Amsal 14:29
Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Firman Tuhan, khususnya melalui Mazmur dan Amsal banyak mengungkapkan tentang betapa positifnya kesabaran. Banyak sekali himbauan untuk menjadi orang yang sabar dan tidak mudah marah. Tetapi itu bukan berarti tidak boleh marah. 

Menurut saya, kehabisan kesabaran dan marah adalah hal yang berbeda. Kehabisan kesabaran berarti terbawa emosi dalam situasi yang seharusnya masih dapat kita selesaikan, dan itu merupakan dosa. Namun marah adalah situasi karena ada suatu hal yang salah dan marah harus diwujudkan sebagai tindakan yang benar. Beberapa hari yang lalu saya sempat mendengar seorang penginjil mengatakan, "Saat kita harus marah, dan kita tidak marah, berarti kita berdosa." Saya cukup sepakat dengan kalimat tersebut, sebab pada kondisi tertentu marah dibutuhkan, tetapi sekali lagi itu karena terdapat kesalahan yang harus diselesaikan. Seperti Tuhan Yesus saat marah karena Bait Suci digunakan sebagai tempat berdagang. Tentu saja Tuhan Yesus harus marah, karena mendapati ketidakbenaran yang terjadi.

Kembali ke topik tentang kesabaran, Firman Tuhan tidak pernah memberikan batas terhadap kesabaran, justru Firman Tuhan selalu menyarankan untuk menjadi sabar. Tetapi manusia yang selalu bergelut dengan dosa, perlahan-lahan memberikan batas terhadap kesabarannya dalam diri sendiri. Dan itu sudah berlangsung sejak dulu hingga sekarang, dan itu yang membuat setiap manusia berpikir bahwa adanya batasan-batasan dalam bersabar.

Sekarang tugas kitalah sebagai orang percaya yang harus mampu membuat perbedaan bagi dunia yang penuh dosa ini. Bersabarlah terhadap segala sesuatu, sebab Tuhan sendiri juga panjang sabar. Dan janganlah kita marah karena kita tidak bisa mengontrol kesabaran kita, tetapi marahlah karena ketidakbenaran.

"Tidak semua orang bisa sabar, tetapi kita harus bisa"

Jumat, 06 Maret 2015

Jangan Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri



Seorang dirigen atau kondektur sebuah orchestra tampil dalam sebuah acara. Umumnya, saat seseorang tampil di suatu acara, dia akan menghadap ke arah penonton untuk mencuri perhatian semua penonton. Tetapi beda hal dengan seorang dirigen, mereka tampil dengan membelakangi penonton. Seorang dirigen tidak fokus dengan penampilannya, melainkan penampilan orang-orang yang dipimpinnya. Kalau penyanyi, pesulap, penari, dan sebagainya selalu bertujuan agar mendapat seluruh perhatian dari penonton, seorang dirigen tidak mempedulikan itu. Yang terpenting baginya adalah memberikan yang terbaik agar penonton menyukai penampilan orchestranya, tidak peduli bagaimana reaksi penonton, entah ada yang tidak suka, tidak memperhatikan, tertidur, ataupun berbicara sendiri. Bila seorang dirigen memikirkan reaksi penonton akan penampilannya, itu justru akan mengganggu pikirannya, dan membuat orchestra yang dipimpinnya menjadi kacau.

Ilustrasi tersebut bagi saya sangat berhubungan dengan Firman Tuhan dalam Filipi 2:1-4 tentang merendahkan diri seperti Kristus.

Filipi 2:1-4
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Memikirkan diri sendiri akan membawa kita kepada sifat egois, tinggi hati, dan tidak peduli terhadap sesama. Hal ini tentu tidak disukai oleh Tuhan, sebab itu bukanlah sifat kasih seperti yang diajarkan Kristus. Dengan tidak memikirkan diri sendiri, kita dituntut untuk rendah hati dan mementingkan kepentingan orang lain.

Memang di suatu saat kita akan merasa bahwa ada kepentingan dari diri kita yang tidak bisa ditawar, sebab menurut kita itu adalah prioritas utama kita dan sudah waktunya untuk diperoleh. Hal itu tidak salah, sebab Tuhan tidak pernah melarang orang memiliki kepentingan, tapi jangan sampai kita melupakan Firman Tuhan tersebut. Mencapai kepentingan kita boleh, asalkan kita tidak mencapainya untuk puji-pujian diri sendiri ataupun merugikan orang lain.

Roma 2:8
tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.

Hukum Tuhan sangat jelas bagi mereka yang mementingkan diri sendiri, yaitu Tuhan akan murka kepada mereka yang melakukannya. Tetapi hukum Tuhan juga jelas bahwa mereka yang mementingkan orang lain, akan mendapatkan hidup kekal.

Setiap orang memang memiliki kepentingan dan urusan sendiri, namun alangkah baiknya jika kita juga mampu peduli dan mengutamakan orang lain dalam hidup kita. Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan kasih adalah sifat Kristus yang harus kita miliki. Akan tercipta suasana yang sangat indah bila setiap orang percaya mampu membangun hal ini bersama-sama.

Pasti akan lebih sedikit waktu untuk orang lain daripada waktu untuk diri sendiri, pergunakanlah!!

Jumat, 20 Februari 2015

Kasih yang besar, memiliki resiko yang besar



Salah satu tradisi yang masih sering terjadi saat kelahiran bayi adalah mencukur habis rambut sang bayi. Ada yang bilang rambut bayi dicukur agar saat bertumbuh dewasa, rambutnya semakin tebal. Namun dalam mencukur rambut sang bayi, tentu saja dibutuhkan keahlian khusus, sebab kepala bayi tentu sangat rawan dengan pisau cukur. Maka dari itu banyak sekali profesi yang melayani proses pencukuran rambut tersebut. Namun suatu keunikan terjadi dalam keluarga saya, ternyata saat saya masih bayi, orang tua saya tidak memanggil jasa pencukur rambut tersebut, ayah saya sendiri yang mencukur rambut saya dan saudara-saudara saya. Saat bercerita kepada beberapa orang, mayoritas orang menanyakan, apa tidak takut kalau nanti kepalanya tergores pisau, terluka, dan lain sebagainya. Tetapi ayah saya menjawabnya dengan berkata bahwa justru ayah saya lebih tidak percaya kalau proses yang penuh resiko tersebut diserahkan ke orang lain.

Mungkin beginilah yang dipikirkan Bapa kita saat memutuskan untuk menebus dosa manusia. Saya yakin Tuhan punya banyak cara untuk menebus dosa manusia daripada harus turun sendiri ke dalam dunia yang penuh dosa ini dan mengalami penderitaan yang tidak mudah. Namun kasih-Nya mengalahkan segala ego-Nya, akhirnya Dia memutuskan untuk turun sendiri dan menebus dengan cara dan rupa seorang manusia. Tuhan ingin secara pribadi lebih dekat dengan manusia dan melawan dosa dengan hidup kudus dan tanpa dosa.

Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Tuhan tidak mau hanya menyuruh malaikat-Nya, Dia ingin melakukan segalanya sendiri. Sebab Dia tidak percaya kepada pribadi selain diri-Nya sendiri. Dia tahu bahwa untuk menebus dan mengalahkan maut bukanlah hal yang dapat dilakukan semua orang. Dia tidak mau digantikan saat melakukan hal yang penuh resiko ini.

Roma 3:24
Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

1 Korintus 13:7
Ia (kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih-Nya menunjukkan kesabaran dalam menanggung segala resiko yang akan dihadapi. dan tentu saja hasil dari segala pengorbanan itu telah kita terima dan nikmati hingga sekarang. Hidup kekal yang seharusnya bukanlah milik kita, kini telah dikaruniakan-Nya kepada kita. Dan hanya dengan iman percaya kita kepada Kristus Yesus, kita akan diselamatkan.

Kasih Tuhan Yesus pada kita tidak perlu diragukan lagi