Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 13 April 2016

BEWARE!!

Dalam setiap keadaan kita, iblis selalu saja mencari kesempatan untuk menjatuhkan setiap anak-anak Tuhan. Dan itu baru saja terjadi pada diri saya sekitar 2 bulan yang lalu. saya ingin menceritakan kisah ini agar dapat menjadi berkat bagi saudara-saudara sekalian.

Saya termasuk orang yang beruntung, sebab segala yang saya butuhkan dapat dikatakan tercukupi oleh berkat-berkat Tuhan. Saya juga memiliki talenta-talenta yang baik dalam berbagai hal, dan ini membuat saya menjadi orang yang sangat percaya diri. Selain itu, saya juga selalu menjalin hubungan dengan Tuhan dengan bersaat teduh setiap hari, berdoa, baca Firman Tuhan, ke gereja, dll. Saya merasakan bahwa hidup saya sudah sempurna dan berkenan di hadapan Tuhan. Hingga suatu saat, saya mengalami permasalahan yang membuat emosi saya meningkat.

Di sifat kepercayaan diri yang saya miliki, saya merasa bahwa saya adalah orang hebat dan bisa segalanya. Saat itulah iblis melihat adanya rasa sombong yang muncul dari diri saya. Saya yakin ini bukanlah pertama kalinya kesombongan ada dalam diri saya, tetapi mungkin saat ini Tuhan berkata lain dan mengijinkan iblis mencobai saya.

Saat emosi saya sangat tinggi dan segalanya terjadi begitu cepat, tiba-tiba terjadilah kecelakaan. Singkat cerita, ternyata Tuhan mengijinkan tulang jari kelingking dan jadi manis tangan kanan saya patah. Saat itu juga, saya mengalami sakit yang luar biasa dan saya harus masuk rumah sakit selama 3 hari dan juga harus melakukan operasi.

Kisah tersebut sungguh menegur diri saya. Dengan segala kehebatan yang saya miliki, ternyata Tuhan hanya memilih 2 tulang yang sangat kecil dari seluruh tulang yang saya miliki, dan itu cukup untuk menjatuhkan saya, dan mengacaukan segala rencana yang saya miliki. Saya bertanya-tanya dalam diri saya, "dimana diriku yang hebat ini?",

Setelah saya masuk di rumah sakit, ternyata Tuhan punya rencana lain, saya tidak diijinkan operasi pada hari itu juga. Saat pihak rumah sakit mengatakan bahwa tidak bisa operasi hari itu, saya memang merasa sedikit kecewa dengan pelayanan rumah sakit, tetapi saya yakin itu semua adalah bagian dari rencana Tuhan.

Rasa sakit dari tangan kanan saya memang sudah sangat berkurang setelah diperban dan diberi obat penahan sakit, dan hal ini membuat saya merasa sakit ini hanya sakit biasa, dan pasti akan sembuh lagi (sebab sebelumnya saya memang pernah mengalami patah tulang yang lebih parah di tangan kiri saya, dan itu sudah sembuh dan kembali normal). Hingga dokter anestesi (bius) yang menangani saya datang dan berkata kepada saya bahwa operasi akan dilakukan keesokan harinya jam 10 pagi. Dan saya akan mulai di anestesi jam 9 pagi. Dia berkata bahwa saya akan dibius regional, jadi saya tidak akan merasakan apa-apa mulai dari bagian bahu kanan, dan itu akan berlangsung sekitar 8 hingga 12 jam. Dia menambahkan lagi dengan berkata, "tapi nanti jangan panik kalau tidak merasakan tangan kanannya, sebab rasanya memang seperti tidak punya tangan."

Mungkin saudara-saudara sekalian membacanya dengan biasa saja, tetapi saat kejadian itu, saya merasa Tuhan berkata kepada saya bahwa dari segala kesombongan yang saya miliki, Tuhan akan mengijinkan saya merasakan bagaimana rasanya tidak punya tangan. Saya sungguh ketakutan saat itu, sebab pada operasi sebelumnya, dokter melakukan bius total, sehingga saya hanya tertidur dan terbangun dengan kondisi sudah selesai dioperasi. Saya tidak pernah takut untuk melakukan operasi meskipun mata saya terbuka, tetapi saat itu yang saya takutkan adalah perasaan bagaimana rasanya tidak mempunyai tangan. Tuhan benar-benar telah menegur saya dengan keras, dan ini akan terus saya ingat, sebab dibalik segala sesuatu yang kita banggakan, sebenarnya kita tidak punya apa-apa. Sejak perkataan dokter itu hingga masuk ruangan operasi saya benar-benar tidak bisa tenang. Hingga detik terakhir saya terus memohon ampun dan berdoa pada Tuhan, dan tiba-tiba dokter menawari apakah mau bius total, dan akhirnya di detik terakhir itu, dokter memutuskan mengganti bius regional dengan bius total.

Tuhan mengijinkan segala sesuatu pasti dengan tujuan yang baik. Pelajaran ini memang sangat berharga dan benar-benar merubah hidup saya. Selama ini saya merasa sudah menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Saya juga selalu mengandalkan Tuhan dalam pekerjaan saya. Saya tidak pernah lupa memohon tuntunan Tuhan dalam segala yang saya lakukan. Tetapi ternyata masih ada sifat negatif yang sudah bersiap-siap keluar dalam diri saya. Kesombongan memang seringkali muncul tanpa kita sadari, tetapi hal tersebut akan menghalangi kita menjadi garam dan terang dunia. Kesombongan akan menutupi diri kita, dan kita tidak akan bisa memancarkan kasih Kristus bagi dunia ini.

Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan?
Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.
-Mazmur 19:12-

Kamis, 07 Januari 2016

Unexpected Effect



Bila kita ditanya siapa orang yang paling berpengaruh, mungkin kita akan menyebutkan sejumlah nama motivator, pemimpin negara, artis, atlet, dan banyak profesi lain. Kita tidak akan pernah menyebutkan nama pembantu, pegawai, atau sopir kita. Ya tentu saja hal itu akan sangat jarang terjadi, sebab dari pikiran kita pasti menganggap bahwa mereka bukanlah siapa-siapa. Bahkan mungkin ada juga di antara kita yang enggan berbicara dengan mereka.

Tetapi tidak bisa kita pungkiri juga, bahwa sebenarnya pengaruh dapat datang dari mana saja, termasuk orang-orang yang tidak kita perhitungkan. Alkitab mencatat bahwa terdapat kisah tentang seorang panglima perang yang bernama Naaman. Dikisahkan bahwa orang ini terkena penyakit kusta, dan singkat cerita dia dapat disembuhkan oleh Tuhan melalui perantaraan nabi Elisa.

Bila kita mengikuti kisahnya, Naaman dapat bertemu dengan Elisa karena jasa pelayan di rumahnya yang mengenalkannya pada Elisa dan juga karena rayuan pegawai-pegawainya untuk melakukan perkara yang diperintahkan oleh Elisa. Hal ini tentu saja tidak akan dilakukan oleh Naaman bila dia merasa gengsi dan tidak peduli terhadap bawahannya.

2 Raja-Raja 5:3
Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya."

2 Raja-Raja 5:13
Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir."

Mungkin banyak dari kita juga berpikir bahwa banyak orang yang memiliki status sosial di bawah kita bukanlah siapa-siapa, dan tidak perlu kita pedulikan, tetapi dengan kisah ini Tuhan sekali lagi mengingatkan kita untuk tetap peduli dan memperhatikan mereka. Sebab Tuhan selalu memakai siapapun dan apapun yang ada di sekitar kita untuk mengingatkan kita. Bila kita sering mengesampingkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita hanya karena kita "sombong", maka akan banyak berkat yang seharusnya menjadi milik kita justru hilang karena ketidak pedulian kita.

Pengaruh positif bisa datang kapan saja dan dimana saja, asalkan kita selalu peka dengan suara Tuhan, bahkan di waktu dan tempat yang tidak kita duga sekalipun. Jalanilah hidup ini dengan selalu berserah kepada Tuhan dan minta kepadaNya untuk selalu membuat kita peka terhadap suaraNya.

Kita bukanlah orang yang sempurna, 
maka selayaknya kita juga memperhatikan sekitar kita.

Kamis, 09 Juli 2015

Penghambat Berkat Tuhan



Di Indonesia pada saat menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya tukang parkir dan pedagang asongan yang selalu beraktivitas di dekat suatu perusahaan atau kantor, akan mendapatkan THR dari pimpinan perusahaan tersebut. Tetapi suatu hal unik terjadi. Terdapat seorang pemilik sebuah perusahaan, dia juga berkeinginan untuk memberikan THR kepada orang-orang di sekitarnya. Tetapi dia tahu bahwa ada satu orang tukang parkir yang tidak disenangi olehnya, sebab dia selalu memarkirkan kendaraan di depan pintu perusahaannya, padahal sudah sering diperingatkan agar jangan diparkir di depan pintu. Dia berniat tidak memberikan THR kepada satu orang ini. Akhirnya dia mengamati tukang parkir ini untuk mengetahui kapan waktu dia istirahat. Setelah mengetahuinya, besoknya dia berencana memberikan THR pada waktu jam si tukang parkir ini beristirahat. Terjadilah saat itu, si pemilik perusahaan ini dengan senang hati berbagi THR pada saat orang yang tidak disenanginya ini beristirahat. Semua orang di sekitar perusahaan itu bersuka cita, tetapi terdapat satu orang yang tidak mengerti apa-apa dan ini disebabkan karena kesalahannya sendiri.

Sedikit cerita di atas mungkin membuat kita tersenyum, karena mungkin itu juga yang akan kita lakukan bila kita jadi pemilik perusahaan itu. Tetapi sadarkah kita bila kita ternyata bukan berada dalam posisi pemilik perusahaan, melainkan kita adalah tukang parkir yang bandel tersebut?

Kadang kita merasa bahwa berkat Tuhan semakin hari semakin berkurang dalam hidup kita, bahkan mungkin ada yang merasa tidak diberkati sama sekali. Mungkin saat itu kita merasa sudah melakukan segala yang terbaik dalam usaha dan pekerjaan kita, tetapi tidak membuahkan hasil yang baik. Atau kita juga sering merasa bahwa ada beberapa orang yang tidak berusaha keras seperti kita, tetapi memiliki berkat yang berkelimpahan. Dan bahkan kita sering merasa bahwa berkat yang seharusnya kita dapatkan, ternyata diperoleh oleh orang lain.

Yesaya 59:2
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

Firman Tuhan menyebutkan bahwa dosa adalah pemisah antara manusia dan Tuhan. Bahkan saat kita berdoa dan berseru kepada Tuhan, Ia tidak akan mendengar doa kita karena segala dosa kita. Saat itulah berkat yang seharusnya kita terima, ternyata tidak kunjung datang. Tuhan tidak akan pernah berhenti memberikan berkat-Nya, tetapi pada saat giliran kita mendapatkan berkat itu, kita seringkali terhalang oleh dosa-dosa kita.

Galatia 5:19-21
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Bila hal ini menimpa kehidupan kita saat ini, janganlah mencari alasan mengapa berkat Tuhan tidak kita rasakan, tetapi perbaikilah hidup kita agar menyenangkan hati Tuhan. Tinggalkanlah hal-hal duniawi, walaupun memang akan sangat susah selama kita masih hidup di dunia ini, tetapi dengan bimbingan Tuhan, kita pasti bisa melawan segala keinginan daging. Hendaklah kita hidup bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita, sebab berkat sesungguhnya akan datang saat kita tetap dan selalu setia kepada-Nya.

== dosa memberikan kenikmatan duniawi, tetapi menghalangi kenikmatan sorgawi ==

Rabu, 24 Juni 2015

Zona Nyaman



Yosua 1:6-9
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Dua tahun yang lalu, saya sangat antusias ketika bermimpi untuk membuka usaha baru. Saya memiliki mimpi-mimpi besar seperti yang dijanjikan Tuhan. Tetapi itu hanyalah permulaan saja, pada saat seminggu sebelum hari pertama saya bekerja secara mandiri di usaha saya sendiri, muncul perasaan yang sangat tidak enak. Saya khawatir, takut, galau, dan berbagai macam perasaan negatif, bahkan muncul perasaan bahwa saya telah salah langkah dalam mengambil keputusan tersebut. Tetapi puji Tuhan, saya mampu melewatinya, dan sekarang saya sudah menikmati hasil dan janji-janji besar dari Tuhan.

Mungkin perasaan ini juga dialami oleh Yosua. Semula dia adalah seorang asisten dari Musa, orang kepercayaam Tuhan. Hidupnya bisa dibilang sudah enak, dan punya jabatan yang baik. Tetapi Tuhan punya rencana yang lebih baik bagi kualitas hidupnya. Tuhan ingin menjadikan Yosua pemimpin bagi bangsa Israel untuk menuju tanah perjanjian. Saya yakin Yosua sangat antusias menerima panggilan Tuhan, tetapi di dalam pikirannya pasti Yosua juga merasakan khawatir dan ketakutan yang luar biasa, sebab dari yang sebelumnya hidupnya sudah di posisi yang nyaman, kini harus menjadi pemimpin menggantikan Musa, yang pastinya memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Zona nyaman selalu susah untuk ditinggalkan. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak menyukai zona nyaman, sebab itulah kodrat manusia, yaitu selalu ingin hidup tanpa tantangan. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk tinggal dalam zona nyaman kita, tetapi Tuhan selalu memiliki tingkat kualitas yang lebih besar bagi kehidupan kita. Dan untuk mencapai tingkat tersebut, saat itulah Tuhan mengharuskan kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman kita.

Yosua yang adalah pemimpin besar pun takut saat melangkah keluar dari zona nyamannya, dan Tuhan mengetahuinya. Maka dari itu dalam bacaan di atas, Tuhan mengatakan "kuatkan dan teguhkanlah hatimu" kepada Yosua sampai tiga kali. Yosua dan kita pasti mengerti bahwa tujuan kita adalah hal yang sangat baik bagi kita, namun ketakutan saat menjalankannya yang sering membuat kita ragu. Tuhan hanya mengingatkan agar kita selalu bersandar kepada-Nya, tetapi Tuhan tidak menjelaskan secara rinci bagaimana Dia akan menolong kita dalam setiap tantangan yang akan kita hadapi. Di sanalah iman kita diuji, yakinkah kita akan pertolongan Tuhan? Atau justru kita memilih untuk mundur dari jalan yang sudah disiapkan Tuhan?

Daging kita memang lemah dan akan selalu membuat kita ketakutan, tetapi saat kita mampu mengalahkannya, dan memiliki iman kepada Tuhan, maka saat itulah Tuhan dapat bekerja. 

Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Janji Tuhan mungkin hanya berupa angan-angan dan harapan yang menurut kita tidak bisa kita harapkan, Tetapi dengan iman, kita dapat meyakini bahwa janji Tuhan dapat terwujud. Kita tidak akan naik level saat kita selalu menyerah kepada daging dan tinggal dalam zona nyaman terus menerus. Tetapi kita akan merasakan kepuasan saat kita sadar bahwa kita sudah mengalahkan daging, dan kita sedang menikmati janji Tuhan yang semula kita rasa adalah hal yang mustahil.

" Zona nyaman memang enak, 
tetapi belum tentu aman untuk masa depan kita "

Rabu, 06 Mei 2015

Positive Thinking



Pernah ada seorang rekan berdiskusi dengan saya tentang berpikir untuk masa depan, atau dengan kata lain tentang prasangka. Rekan saya ini berkata bahwa dia selalu berpikir tentang hal terburuk yang akan terjadi, sedangkan saya selalu mengutamakan berpikir positif. Dia berkata bahwa penting untuk mengantisipasi segala hal yang terjadi. Menurutnya bila selalu berpikir positif, kita tidak akan siap bila harus menghadapi kegagalan.

Manakah dari pemikiran tersebut yang benar? Terlalu berpikir positif memang susah diterapkan di dunia modern ini. Mengantisipasi memang perlu dilakukan, meskipun kita sudah berpikir positif, sebab bila tidak, itu sama saja berlaku dengan sembrono.

Ayub 3:25
Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.

Berpikir negatif memiliki banyak hal buruk di dalamnya. Pertama, berpikir negatif hanya merusak diri sendiri, sebab yang ada di pikiran kita hanyalah kegagalan, kesalahan, keburukan, dan sebagainya. Tentu ini tidak sehat bila ada terus menerus dalam pikiran kita. Bahkan banyak orang tua kita juga sering mengatakan bahwa janganlah kita berpikir buruk, nanti akan benar-benar kejadian. Hal ini serupa dengan yang dituliskan dalam kitab Ayub.

1 Korintus 13:7
..., (kasih) percaya segala sesuatu, ... 

Dan yang kedua adalah membuang kesempatan yang datang, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Saat kita dihadapkan dengan kesempatan dan kita tidak mengambilnya karena pikiran-pikiran jelek kita, maka saat itu kita sudah melewatkan kesempatan yang belum tentu akan datang lagi pada hidup kita. Apalagi bila yang dihadapkan kepada kita adalah orang yang harus kita percayai atau tidak, dan kita langsung menolaknya, maka saat itu kita juga sudah menghilangkan kesempatan orang tersebut. Salah satu sifat anak Tuhan adalah memiliki kasih, dan salah satu sifat kasih adalah percaya segala sesuatu.

Positive thinking bagi saya bukanlah pertanyaan tentang penting atau tidak, namun merupakan keharusan, sebab semua yang dihadapkan kepada kita adalah rencana yang sudah Tuhan persiapkan bagi kita. Memang antisipasi selalu perlu kita lakukan, tetapi bukan berarti kita mempersiapkan antisipasi karena kita takut, melainkan karena kita butuh hasil yang lebih baik, Hidup dengan berpikir positif harus disertai dengan hikmat Tuhan, agar kita selalu siap menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan ini.

"Positive thinking akan membuka kesempatan-kesempatan yang hilang"

Kamis, 16 April 2015

Mengemudi



Perjalanan dalam kehidupan dapat kita analogikan dengan kegiatan mengemudi.
  • Kemudi / setir harus kita kendalikan sendiri. Sebab saat banyak yang memegang kemudi kita, kehidupan kita akan kacau, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan kecelakaan.
  • Saat mengemudi, yang terpenting adalah melihat ke depan. Saat kita berjalan lurus, yang perlu kita lihat adalah ke arah yang kita tuju. Itulah sebabnya mengapa kaca di depan mobil kita memiliki ukuran yang lebih besar dibanding kaca yang lain.
  • Kaca spion selalu dibuat dengan ukuran kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak selamanya boleh melihat ke belakang. Spion hanyalah alat bantu agar kita dapat pindah lajur dan berbelok untuk menghadapi masalah yang ada di depan kita.
  • Walaupun spion sepertinya kecil dan tidak diperlukan, sebetulnya spion tetap merupakan hal yang penting. Melihat ke belakang atau masa lalu itu boleh, tapi hanya untuk referensi kita dalam menghadapi masa depan. Bahkan banyak kecelakaan terjadi karena banyak orang tidak melihat spion. Tetapi ingat, spion hanya untuk referensi, bukan untuk selamanya melihat ke belakang, fokus kita tetaplah masa depan.
  • Gas dan rem adalah instrumen penting dalam sebuah kendaraan. Sebab tidak ada gunanya mobil bila tidak bisa melaju, dan akan sangat berbahaya saat mobil yang terlalu cepat dalam melaju tidak bisa berhenti. Kehidupan juga seperti itu, dalam melaju ada saatnya kita butuh kecepatan penuh, tetapi itu akan membuat kita terjatuh dalam sifat individual dan ambisius. Dibutuhkan rem untuk menghentikan ambisi kita, dan lebih mempedulikan yang lain. Kecepatan penuh memang dapat mempercepat laju kita, tetapi juga sangat berbahaya.
  • Master brake / hand rem harus digunakan saat sedang parkir, apalagi bila tempat parkir kita bukanlah tempat datar. Ada saatnya kita harus berhenti di suatu titik dalam hidup kita, seperti menikmati posisi pekerjaan kita sekarang, menikmati masa-masa liburan, dan sebagainya. Hal ini menyenangkan, sebab seakan kita tidak perlu melakukan apa-apa, tetapi bila kita tidak memasang rem dalam kehidupan kita, bisa-bisa kita tidak hanya parkir, melainkan malah membuat kehidupan kita mundur dari tempat parkir kita. 
  • Rambu-rambu dan lampu lalu lintas selalu saja kita temui di setiap jalan. Semakin besar jalan raya itu, semakin banyak rambu-rambu lalu lintas. Mungkin kita sering merasa bahwa semakin dewasa ini, semakin banyak aturan-aturan yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan kita. Itu tandanya bahwa kehidupan kita semakin berkembang. Tetapi tentu saja aturan-aturan itu dibuat bukan untuk membatasi laju kehidupan kita, melainkan untuk mengatur pola dan tingkat kehidupan kita.
Perjalanan memang selalu memiliki tantangan tersendiri, kadang hujan, kadang panas, kadang macet, bahkan mengantuk pun bisa menjadi halangan. Maka dari itu kita perlu sigap dan selalu siap dalam menyetir. Begitupun dengan menjalani kehidupan. Bersandarlah pada Tuhan setiap saat, sebab tantangan akan selalu muncul untuk menghalangi laju kehidupan kita.

Mazmur 121:7-8
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Tersesat adalah hal yang biasa, tetapi mampukah kita 
menemukan kembali jalan yang benar?

Minggu, 12 April 2015

Perlukah alasan untuk menolong?



Pada saat saya kuliah, saya pernah diberi kesempatan untuk study tour ke suatu gedung perkantoran. Setelah selesai, saya berencana untuk kembali ke kampus bersama seorang teman. Saat sedang menuruni lift, kami berpapasan dengan seorang bapak yang tidak kami kenal. Bapak itu cukup ramah dan mengajak kami berbicara, dan dia menanyakan kami dari universitas mana, sebab kami saat itu memang sedang memakai jas almamater. Singkat cerita dia mengetahui kalau kami sedang menuju ke kampus, dan dia berniat untuk menumpang mobil saya, dan turun di halte yang akan kami lewati. Tanpa pikir panjang, saya perbolehkan bapak itu untuk menumpang. Kami pun berangkat, dan sampai di halte, bapak itu pun turun dan berterima kasih. Sesaat setelah bapak itu turun, teman saya dengan cepat memeriksa kursi belakang kami, dia mencari-cari sesuatu, dan akhirnya tidak menemukan apa-apa, dan teman saya berkata, "Hati-hati dengan orang seperti itu, yang ditakutkan itu kalau dia meninggalkan barang-barang yang berbahaya."

Memang dewasa ini jaman sudah berubah, semua orang memiliki sifat yang serba berhati-hati. Prasangka buruk terhadap orang lain selalu muncul hampir dalam pikiran kita. Justru saat kita terlalu baik terhadap seseorang, justru kita dianggap bodoh, dimanfaatkan, lugu, ceroboh, mudah ditipu, dan sebagainya. Ada orang yang berpendapat bahwa tidak semua orang patut ditolong, kadang justru ada orang yang berpura-pura untuk ditolong. Namun bila kita berpikiran seperti itu, lalu bagaimana saat ada orang yang benar-benar butuh ditolong, namun tidak kita tolong. Saat kita ingin berbakti sosial dengan menyumbang ke panti asuhan, biasanya kita mengajak teman-teman kita untuk bergabung, tetapi pasti selalu ada yang bilang, "panti asuhan itu sudah kaya, banyak yang menyumbang." Kalimat ini tentu sudah biasa dan tidak jarang kita dengar.

Kisah Para Rasul 4:32
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Dalam kehidupan jemaat mula-mula, semua memiliki pemikiran bahwa mereka harus berbagi. Itulah wujud kasih yang ditampilkan pada cara hidup berjemaat yang pertama. Apakah saat itu tidak ada pemikiran yang negatif menanggapi hal tersebut? Tentu ada, sebab yang namanya manusia pasti akan memiliki sifat duniawi yang akan selalu menentang cara hidup yang benar. Namun dengan hidup berkelompok dengan komunitas yang baik, sifat duniawi tentu akan semakin mudah ditekan. Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan kita di jaman sekarang.

Memang dibutuhkan hikmat agar kita mampu mengerti apa yang baik dan yang benar, dan ini berlaku juga saat kita memberikan pertolongan kepada orang lain, siapakah yang butuh dan layak kita tolong. Tetapi percayalah bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia (1 Kor 15:58). Dalam setiap melakukan kegiatan, landaskanlah semuanya itu untuk Tuhan.

"Walaupun kita salah langkah, Tuhan mampu memakai kesalahan kita
menjadi berkat yang tidak terduga sehingga tidak akan ada hal yang sia-sia"