Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 26 Juni 2014

Kasih



Pada saat saya masih kecil dan mengikuti Sekolah Minggu, kakak pembimbing saya pernah mengatakan bahwa inti dari Alkitab hanya ada satu, yaitu KASIH. Saat penciptaan, Allah Bapa menunjukkan kasih-Nya atas segala ciptaan, termasuk manusia. Saat manusia jatuh ke dalam dosa, kasih tetap dicurahkan dengan memelihara manusia. Pembebasan umat Israel dan memberikan tanah perjanjian juga wujud kasih Bapa. Setelah itu, Bapa juga memberikan orang-orang pilihan atau nabi untuk selalu mengingatkan kasih Allah pada manusia. Dan hingga pada zaman Perjanjian Baru, Bapa mengutus anak-Nya, Tuhan Yesus untuk menebus dosa manusia. Dan setelah naik ke Surga, Roh Kudus tetap dicurahkan untuk mendampingi dan mewujudkan kasih-Nya pada manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu akan sangat menyenangkan bila setiap orang memiliki kasih. Dalam kehidupan yang saling mengasihi, tentu tidak akan ada permusuhan, pertengkaran, dan hal-hal yang negatif. Seperti itulah seharusnya kehidupan orang percaya, sebab Allah telah menyatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya harus memiliki kasih, sebab Allah sendiri adalah kasih.

1 Yohanes 4:8
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

1 Yohanes 4:16
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Setiap orang yang mengaku percaya dan mengenal Allah tentu harus tinggal di dalam Allah dan mau mengundang Allah agar tinggal di dalam kita juga. Dengan adanya hadirat-Nya dalam hidup kita, kasih akan selalu terpanxar dari kehidupan kita. Hemdaklah semakin hari, kita semakin serupa dengan Allah.

Dengan menjadi serupa dengan Allah, sifat-sifat dari kasih akan kita miliki juga. Paulus menyampaikan pengertian kasih kepada jemaat di Korintus, bahwa kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, sopan, bersukacita karena kebenaran, dan lain-lain.

1 Korintus 13:4-7
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih bukanlah hal yang hanya kita wujudkan kepada orang-orang yang kita kenal, namun seharusnya kita mewujudkan kasih kepasa semua orang, bahkan kepada musuh kita sekalipun. Tuhan Yesus juga pernah mengungkapkan mengenai hal yang serupa, bahwa berbuat baik kepada orang yang baik dengan kita merupakan hal yang wajar. Memberikan bantuan dengan mengharapkan imbalan pun juga demikian, sebab apakah jasa kita bila melakukan hal seperti itu. Tuhan Yesus menghendaki agar kita mendoakan, mengasihi, membantu, dan memberkati musuh kita, sebab itulah yang juga dilakukan Tuhan Yesus kepada musuh-musuh-Nya.

Lukas 6:35
Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Lukas 6:36
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Segala yang kita lakukan tentang kasih sudah dicontohkan oleh Bapa, maka dari itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi. Yang harus kita pegang sebagai orang percaya adalah, bila kita hidup di dalam hadirat Tuhan, maka haruslah kasih terwujud dalam hidup kita. Bila kasih itu tidak muncul dari hidup kita, maka kita harus memeriksa iman kita sekali lagi, apakah kita sudah serupa dengan-Nya atau masih ada hal yang menghalangi kesungguhan iman kita.

Paulus sekali lagi membuat pernyataan mengenai kasih, dia menyebutkan bahwa kasih harus dimiliki setiap orang, sebab dasar dari segala yang baik adalah KASIH. Tanpa kasih segala pernuatan baik kita percuma, tanpa kasih iman kita juga tidak dapat berkembang, dan tampa kasih pengharapan kita akan hampa.

1 Korintus 13:13
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Hiduplah penuh kasih, sebab Allah adalah kasih. 

"Mengasihi orang yang mengasihi kita adalah wajar, 
namun mengasihi musuh kita adalah mulia"

Senin, 23 Juni 2014

Kebahagiaan Sejati



Bila kita mencari kata bahagia di dalam alkitab, tentu mata kita tidak akan luput dari Khotbah Yesus di bukit, yang juga dikenal sebagai "Ucapan Bahagia". 

Matius 5:2-12
Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

Tuhan Yesus mengungkapkan segala sesuatu yang bertolak belakang dengan keadaan duniawi, sebab fokus Tuhan Yesus adalah kebahagiaan yang sejati. Sedangkan kebahagiaan yang selalu ditonjolkan oleh dunia adalah kebahagiaan yang semu.

Tuhan Yesus mau agar kita sebagai orang percaya mengerti apa arti dari kebahagiaan yang sebenarnya. Dalam kamus bahasa Indonesia, disebutkan bahwa bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Tentu saja pengertian tersebut benar, namun bagaimanakah cara mencapai kebahagiaan yang sejati? Tuhan mengajarkan Ucapan Bahagia untuk memutarbalikkan fakta, bahwa yang kita alami di dunia tidak akan mampu mempengaruhi kebahagiaan sejati kita di dalam Kristus. Dengan mengalami banyak penderitaan dan aniaya karena-Nya, Tuhan Yesus menyebutkan bahwa upah kita akan besar di Sorga. 

Yesaya 48:18
Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,

Tuhan sangat mengerti bahwa mengikut Dia tidaklah mudah, akan banyak jalan yang naik turun. Tetapi janji Tuhan sangatlah jelas, yaitu kebahagiaan akan datang terus, bahkan berlimpah-limpah seperti gelombang laut yang tidak pernah berhenti.

Lalu sebenarnya bagaimanakah agar kita mendapatkan kebahagiaan sejati? Cara yang pertama adalah kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Tentu saja hal ini akan dapat kita wujudkan dengan memberitakan Injil-Nya, menjauhi dosa, dan hidup berserah kepada-Nya.

Dan cara yang kedua adalah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dengan menolong, berbagi, berkorban, dan peduli dengan orang lain, kebahagiaan akan muncul dengan sendirinya ke dalam hidup kita. 

Bila kita berpikir dengan logika kita, banyak hal yang tidak masuk akal. Bagaimana ceritanya, bila kita berkorban demi orang lain, kita justru akan mendapatkan kebahagiaan. Bagaimana bisa bila kita menjadi misionaris dengan sukarela dengan biaya sendiri, kita akan mendapatkan kebahagiaan. Bagaimana mungkin saat kita keluar dari zona nyaman yang selama ini membuat kita bahagia, justru kita disebutkan akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.

Sebagai orang percaya, memang kita dituntut untuk berserah dan percaya akan janji-Nya. Logika dan kedagingan kita akan mengeroyok iman kita. Janji Yesus adalah ya dan Amin. Dan Tuhan pasti akan menggenapi semua janji-Nya, termasuk segala janji tentang kebahagiaan yang akan kita dapatkan saat melakukan perintah-Nya.

Roma 4:20-21
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Percayalah dan cobalah lakukan segala yang diinginkan oleh Tuhan, maka kebahagiaan akan kita rasakan dalam hidup.

"berbagi kebahagiaan tidak akan mengurangi kebahagiaan kita"


Kamis, 19 Juni 2014

Terbiasa Berdosa??


Tepat tanggal 18 Juni 2014, kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, yang berada di Surabaya sudah resmi ditutup. Hal ini dimotori oleh ibu Risma sebagai walikota Surabaya. Beliau pernah cerita ke media tentang rencananya menutup kawasan ini, dan beliau mendapatkan pertentangan yang sangat keras dari masyarakat kawasan tersebut. Bahkan hal itu tetap berlangsung hingga hari penutupan tersebut. Mereka justru menyuarakan tentang hak pekerjaan mereka. Dengan kata lain, mereka merasa bahwa pekerjaan sebagai pemuas hawa nafsu adalah pekerjaan yang normal. Sebenarnya ada apa dengan pribadi-pribadi yang seperti ini? Apakah mereka sudah tidak menganggap dirinya berharga lagi? Atau mereka sudah terbutakan oleh materi yang akan didapatkan dari pekerjaan ilegal tersebut?

Sebagai umat Kristus, tentu kita merasa bahwa hal tersebut seratus persen salah. Sebab kita tahu bahwa perzinahan adalah dosa, dan dosa adalah hal yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Kecenderungan manusia untuk memaklumi dosa adalah hal yang sangat berbahaya, sebab akan menciptakan sebuah kebiasaan. Dalam kasus di atas, memang kita melihat suatu dosa yang ekstrim, namun bila kita melihat diri sendiri dan lingkungan di sekitar kita, sebenarnya banyak sekali orang yang berbuat dosa tetapi merasa bahwa dosa itu adalah hal yang wajar.

Mulai dari anak kecil yang mencuri-curi waktu tidur siangnya untuk bermain, murid-murid yang mencontek saat ujian, mahasiswa yang sering bolos saat kuliah, pasangan kekasih yang berbohong pada pasangan / pacar karena ingin bergaul dengan lawan jenis, para profesional yang berbohong pada atasan dengan berbagai macam alasan agar tidak dimarahi, pegawai di bagian pembelian yang mendapatkan imbalan / sogokan, dan berbagai macam hal lagi yang sudah kita anggap sebagai suatu kebiasaan. Hal seperti inilah yang harus kita sadari bahwa sekecil apapun dosa, hal tersebut adalah musuh dari setiap orang percaya. Tuhan Yesus tidak pernah menyebutkan dosa besar dan kecil, sebab di mata Tuhan hal tersebut adalah dosa, dan Tuhan membenci dosa.

Roma 6:23
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Yehezkiel 18:4
Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.

Jauhilah dosa, sebab hal itu akan berujung kepada maut. Ada beberapa orang beranggapan bahwa melakukan dosa kecil itu tidak apa-apa, sebab bisa ditutupi dengan amal, berbuat baik, atau pelayanan. Tetapi hal ini tidaklah benar, sebab selama dosa masih melekat dengan kita, maka kita tidak akan bisa lepas dari maut. Segala perbuatan baik kita tidak akan dapat menghapuskan dosa kita, perbuatan baik kita tentu akan membuat kita menuai berkat dari Tuhan. Tuhan mempunyai neraca berkat sendiri dalam perhitungan-Nya.

Lukas 6:38
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Tuhan berjanji bahwa saat kita memberkati orang, kita akan menuai berkat itu juga, tapi hanya sejauh itulah janji Tuhan. Tidak ada yang dapat menghapuskan dosa itu sendiri selain kita mau mengaku, meninggalkan dosa, dan hidup dengan penuh iman dan berserah kepada Tuhan. 

Roma 10:9-10
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Janganlah kita hidup membiasakan diri dengan dosa. Lingkungan kita tentu akan penuh dengan godaan dan hawa nafsu, dan selama kita masih dibelenggu dengan daging, maka dosa akan terus membayang-bayangi setiap langkah kita. Tetapi tentu kita tidak dapat meninggalkan lingkungan kita begitu saja, maka dari itu wajib bagi orang percaya untuk tidak terseret arus dosa, melainkan mampu berdiri tegap di tengah-tengah dunia. Senjata kita sudah disediakan oleh Tuhan, kita hanya perlu menggunakannya saja.

Efesus 6:11-18
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Biarlah Roh Kudus hidup di dalam kita, dengan begitu kita senantiasa mampu melawan kebiasaan dosa dan bahkan mampu mengubah kebiasaan dosa di lingkungan kita.

"Terbiasa hidup dengan dosa adalah jalan terbaik menuju kebinasaan, tetapi terbiasa hidup dengan perlengkapan senjata Allah adalah satu-satunya jalan menuju hidup kekal"

Selasa, 17 Juni 2014

Banyak Anggota tapi Satu Tubuh



Film Robocop yang baru saja rilis February 2014 memiliki beberapa hal yang menarik. Saya tidak akan menceritakan film ini kembali, saya hanya akan mengambil suatu hal yang menarik dari film ini. Diceritakan bahwa detektif Murphy (Robocop) mengalami kecelakaan berat yang mengakibatkan seluruh organ tubuhnya rusak, kecuali kepala dan jantungnya. Namun dia tetap dapat beraktifitas karena didukung oleh tangan, kaki, dan tubuh yang lengkap dan saling terhubung. Kepala dari Detektif Murphy mampu menggerakkan dan mengendalikan keseluruhan tubuh palsunya tersebut, bahkan menjadikan tubuhnya lebih kuat dari sebelumnya.

Dari cerita singkat di atas, dapat menggambarkan betapa pentingnya kepala. Tubuh yang terpisah dan tidak terintegrasi dengan baik dapat dikendalikan oleh kepala. Sebagai orang percaya, tentunya kita tidak asing dengan ungkapan bahwa Kristus adalah kepala dan kita tubuh-Nya. Bila kita sulit mengumpamakannya, anda dapat membayangkan hal perumpamaan Robocop tersebut.

Kolose 1:18
Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.

Efesus 1:22-23
Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Tuhan Yesus adalah kepala dan kita adalah tubuh-Nya. Sebagai tubuh-Nya tentu kita harus mendukung apa yang diperintahkan oleh kepala. Sebab jika tubuh bergerak atas kemauannya sendiri, tidak akan ada hasil yang akan tercapai. Setiap bagian tubuh memiliki egois masing-masing, dan hal ini harus disingkirkan agar tidak menghalangi tujuan dari sang Kepala.

Dalam film Robocop tersebut juga diperlihatkan saat setiap anggota tubuh dilepas dari kepala detektif Murphy, yang terjadi adalah tangan, kaki, dan bagian tubuh yang tidak terhubung dengan kepala tersebut hanyalah sebuah bongkahan besi yang tidak berguna. Tidak ada tujuan yang harus dicapai oleh setiap anggota tubuh tersebut. Seperti itulah keadaan setiap orang percaya yang tidak mau terhubung dengan Kepala rohani kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kita akan menjadi orang biasa yang tidak mempunyai tujuan hidup, dan di mata Tuhan, kita tak lebih dari domba yang terhilang.

Lalu sebagai tubuh, apa sebenarnya yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Kepala? 

Kolose 1:24-29
Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Paulus menjawab pertanyaan kita dengan pernyataannya kepada jemaat di Kolose, yaitu sebagai tubuh-Nya, dia ingin menjadi pelayan dan memberitakan Firman Tuhan kepada semua orang. Terlebih lagi dia juga meyakinkan bahwa Kristus berada di tengah-tengah kita, dan Dia adalah pengharapan akan kemuliaan untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita mau berintegrasi dengan Kristus ataukah kita hanya mau menjadi manusia yang tidak punya tujuan hidup dan menjadi bongkahan yang tidak berguna? Semua adalah pilihan kita.

"Tanpa tujuan hidup sama saja dengan bertujuan untuk menjadi tidak berguna"

Rabu, 11 Juni 2014

Mengeluh



Judul artikel ini pasti sudah tidak asing di kehidupan kita. Banyak sekali hal-hal yang tidak kita kehendaki terjadi dalam perjalanan hidup kita. Entah itu berupa penyakit, kegagalan, kecemburuan, iri hati, dan lain-lain.

Kegiatan mengeluh ini pun tidak jarang dilakukan oleh orang percaya, dan ini juga dicatat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru di Alkitab kita. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya banyak sekali manusia yang merasa tidak puas terhadap rancangan yang sudah disediakan oleh Tuhan kita. Sebagai contoh, umat Israel yang semula senang karena bisa bebas dari jajahan bangsa Mesir, pada saat mengalami masa kebuntuhan, mereka menyalahkan Tuhan karena nasib mereka. Daud pun melakukan hal yang sama, meskipun Daud adalah orang yang dipakai oleh Tuhan, namun dicatat bahwa Daud pun mengeluh terhadap Tuhan.

Bilangan 11:1
Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.

Mazmur 13:2-3
Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

Bila kita mengeluh, itu sama saja kita tidak percaya dengan Bapa kita. Sebab saat kita mengeluh, kita ingin agar kehendak kitalah yang terjadi, padahal sebagai orang percaya kita tahu bahwa pasti ada sesuatu yang akan kita jumpai dibalik masa kejatuhan yang sedang kita hadapi.

Terdapat pilihan bagi kita saat berada dalam masa kejatuhan dalam hidup kita, yaitu mengeluh karena nasib buruk kita atau justru kita terus memiliki pengharapan dalam iman kita. Kita tentu sudah seringkali melewati nasib buruk, dan seringkali setelah melewatinya kita baru sadar maksud Tuhan dari rancangannya dalam hidup kita. Tentu kita tidak akan pernah mengerti seperti apa rancangan Tuhan, namun kita tidak perlu mengetahuinya, kita hanya perlu memiliki pengharapan dan menjalaninya dengan tekun bersama dengan Tuhan.

Roma 8:24-25
Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Paulus juga memiliki kelemahan dalam tubuhnya, dan Paulus pun juga ingin menghilangkan kelemahan itu dengan memohon kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berkehendak lain, Tuhan mengatakan bahwa kelemahan itu haruslah tetap ada dalam Paulus, sebab Tuhan dapat berkarya melalui kelemahan itu. Mungkin Paulus merasa dengan diangkatnya kelemahan dari dalam dirinya, dia bisa melakukan pelayanan yang lebih baik lagi, namun seperti halnya kita sebagai manusia, kita tidak mengethui pikiran Tuhan yang jauh lebih sempurna dari pikiran kita.

2 Korintus 12:7-10
Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Untuk menutup artikel ini, ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal dari seorang pemain Tenis yang mendapatkan Trofi Wimbledon. Perkataannya ini dia katakan saat dia mengalami sakit kanker. Ada seseorang yang menanyakan kepada Arthur, apakah dia tidak mengeluh kepada Tuhan karena penyakitnya ini. Dan inilah jawaban Arthur Arshe:
"Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'" - Arthur Arshe

Ketika melihat perkataan Arthur Arshe, saya merasa bahwa jawaban seperti itulah yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya. Banyak dari kita saat mengalami kemenangan, kita tidak pernah berpikir mengapa saya harus mengalami kemenangan itu, tetapi saat kekalahan, kita selalu mengeluh kepada Tuhan. Mari kita hidup berserah kepada Tuhan dan menjalaninya dengan pengharapan dan iman kita kepada Kristus.

"Jalani rancangan-Nya dengan pengharapan dan kau akan mengetahui tujuan-Nya"

Senin, 09 Juni 2014

Rubik Kehidupan


Belakangan ini saya menyukai permainan kubus Rubik. Saya merasa bahwa permainan ini sangat unik, sebab bentuknya yang sederhana, tetapi mampu menghasilkan kerumitan yang luar biasa, khususnya bagi saya yang masih pemula ini. Proses yang rumit dan panjang harus dijalani Rubik ini dari warna yang tak beraturan menjadi kombinasi warna yang sempurna.

Kemudian saat saya memainkan permainan ini, saya berpikir bahwa manusia dapat diibaratkan sebagai Rubik.

Permutations
The original (3×3×3) Rubik's Cube has eight corners and twelve edges. There are 8! (40,320) ways to arrange the corner cubes. Seven can be oriented independently, and the orientation of the eighth depends on the preceding seven, giving 37 (2,187) possibilities. There are 12!/2 (239,500,800) ways to arrange the edges, since an even permutation of the corners implies an even permutation of the edges as well. (When arrangements of centres are also permitted, as described below, the rule is that the combined arrangement of corners, edges, and centres must be an even permutation.) Eleven edges can be flipped independently, with the flip of the twelfth depending on the preceding ones, giving 211 (2,048) possibilities.
     
     8! x 3^7 x (12!/2) x 2^11 = 43,252,003,274,489,856,000

which is approximately 43 quintillion.

Kutipan tersebut saya ambil dari wikipedia, yang menyebutkan begitu banyaknya kombinasi, proses, dan kemungkinan yang dapat terjadi dari suatu Rubik untuk menjadi sempurna. Lebih dari 43,000 trilliun kemungkinan yang terjadi dari suatu Rubik yang kecil. Semua pemain Rubik mengetahui bahwa tujuannya adalah membuat kombinasi warna yang sama di tiap sisinya, namun dengan banyaknya kemungkinan tersebut, bayangkan bila tidak ada panduan atau pedoman untuk menyelesaikan permainan ini, pasti para pemain Rubik bakal "tersesat" dan tidak tahu harus berbuat apa.

Yakobus 4:14-15
sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Seperti itulah kehidupan manusia. Manusia hanya terbatas pada suatu ruang yang kecil seperti Rubik ini, tetapi tujuannya adalah menjadi sempurna serupa dengan Bapa kita di Sorga. Bakal banyak proses yang harus dijalani, seperti Rubik ini yang harus berputar dan bergesekan untuk menjadi sempurna, manusia juga harus mengalami masalah, jatuh bangun, dan hal-hal yang menyakitkan untuk menjadi sempurna. Untuk menyelesaikan Rubik kehidupan, tentunya kita butuh panduan yang jelas agar proses yang kita jalani tidak sia-sia, dan itu sudah tersedia dan dicontohkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Dia sudah menunjukkan walaupun dalam keterbatasan tubuh kita sebagai manusia, Dia tetap mampu menyelesaikan Rubik dengan sempurna dan tidak berbuat dosa sedikitpun. Hal inilah yang harus kita contoh, walaupun mungkin kadang kita jatuh ke dalam dosa, janganlah kita membiarkan diri kita tersesat, tetapi haruslah kita kembali ke jalan yang benar.

Efesus 1:9-10
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Rahasia menyelesaikan Rubik kehidupan kita ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Berpeganglah pada-Nya dan andalkan Dia dalam segala sesuatu.

Dalam kehidupan Paulus yang tersesat dalam rumitnya Rubik kehidupannya, setelah mengenal Yesus sebagai Juru Selamat, Paulus menjadi manusia yang luar biasa. Dia menyelesaikan sisa kehidupannya dengan menjalani tujuan hidup yang benar, yaitu melakukan semua kehendak-Nya dan menjadi serupa dengan Kristus. Walaupun harus mengalami penolakan dan proses yang menyakitkan, akhirnya dia menjadi manusia yang berguna. Dan pada akhirnya Paulus dapat bangga karena dia sudah menyelesaikan Rubik kehidupannya.

2 Timotius 4:7-8
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Marilah kita juga menyelesaikan Rubik dalam kehidupan kita masing-masing. Mungkin proses yang kita jalani berbeda-beda, tetapi tujuan kita sama, yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

Anda akan puas saat menyelesaikan permainan Rubik, namun anda akan bersukacita 

saat menyelesaikan Rubik kehidupan

Dosa yang Disengaja



Sebagai manusia seringkali kita jatuh bangun dari dalam dosa. Pada saat tertentu kita merasa kuat dalam iman kita, tetapi pada saat lain kita merasa bahwa godaan dan hawa nafsu duniawi begitu menggoyahkan kita. Saat kita akhirnya masuk ke dalam dosa itu, barulah kita sadar bahwa kita salah.

Baru saja saya membaca sebuah kisah tentang anak kecil yang senang mengendarai mobil mainan di dalam pekarangan rumahnya. Anak kecil ini diperingatkan oleh ayahnya agar tidak keluar halaman rumah, sebab akan berbahaya bila ada kendaraan yang lewat pada saat itu. Tetapi anak kecil ini begitu ingin keluar dari rumahnya, dan dia berfikir bahwa "sekali ini saja" tidak akan terjadi apa-apa. Tepat saat dia mengendarai mobil mainannya keluar dari halaman rumah, spontan anak ini kaget karena mendengar suara rem mobil di sampingnya. Ternyata ada mobil yang mengerem mendadak agar tidak menabrak anak kecil ini.

Mungkin kita berpikir bahwa anak ini nakal, tapi sadarkah kita bahwa kita juga sering melakukan hal yang sama. Kita sering merasa bahwa untuk "sekali ini saja" kita boleh melanggar perintah Bapa kita, dan tidak akan terjadi apa-apa. Padahal bahaya dari dosa sudah menunggu kita di luar sana.

Psalms 19:13
Keep your servant also from willful sins; may they not rule over me.

Mzm 19:13 (19-14) - bahasa Indonesia sehari-hari
Jauhkanlah aku dari dosa yang disengaja, jangan biarkan aku dikuasai olehnya.

Dalam ayat tersebut terlihat bahwa Daud juga menyadari bahwa dosa yang disengaja merupakan hal yang berbahaya. Daud adalah orang yang mengetahu apa yang disukai dan tidak disukai Tuhan, tetapi dia juga pernah jatuh ke dalam dosa. Hal inilah yang membuat Daud sadar bahwa sebagai orang percaya, kita harus menjauhi dosa-dosa yang disengaja. 

Dunia memang nikmat dan menawarkan kepuasan yang luar biasa, tapi ingatlah bahwa itu semua hanyalah sesuatu yang semu. Wajar sebagai manusia yang dipenuhi daging, kita jatuh ke dalam dosa. Tetapi tidak wajar bagi manusa yang sudah lahir baru, bila kita jatuh ke dalam dosa yang disengaja.

1 Korintus 10:13b
Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Bapa kita selalu menjaga kita saat ada godaan datang, jangan biarkan dosa menguasai kita. Jangan keluar dari jalan yang ditentukan Bapa, maka kita dapat melawan godaan itu.

"Godaan bisa datang kapan saja, tetapi jangan puaskan keinginannya"

Benarkah ada Campur Tangan Tuhan?



Seorang teman saya pernah mengatakan, buat apa dekat dengan Tuhan kalau tetap akan mengalami pencobaan? Lebih baik hidup netral saja, tidak usah dekat dengan Tuhan maupun iblis. Sebab hasilnya sama saja. Bagi saya, pernyataan ini cukup menarik, sebab memang pada kenyataannya banyak orang percaya yang juga mengalami masalah, dan bahkan banyak orang yang tidak percaya memiliki hidup yang serba berkelimpahan. Kemudian saya mulai berpikir bagaimana saya menjawab pertanyaan dari orang-orang seperti teman saya ini.

Sebenarnya bila kita menanggapi dengan berlandaskan sifat kedagingan kita, semua memang terlihat sama. Kita akan mengalami masa-masa yang senang dan susah secara bergantian. Tapi yang perlu kita sadari adalah apakah kesusahan yang kita alami dapat membuat kita menjadi lebih baik? Dan apakah kesenangan yang kita alami adalah kesenangan yang sesaat atau kesenangan yang kekal? Hal inilah yang membedakan antara kita hidup bersandar pada Tuhan dan hidup berlandaskan diri kita sendiri.

Banyak dari orang-orang yang hidup berlandaskan dirinya sendiri tidak menyadari bahwa selalu ada campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Banyak hal kecil dalam hidup kita yang tidak kita sadari bahwa itu adalah campur tangan Tuhan. Ada orang yang meminjamkan charger handphone saat baterai handphone kita habis, ada spot wifi saat kita butuh jaringan internet, kita menemukan toilet umum saat kita butuh huang air, dan lain-lain. Banyak sekali hal yang merupakan pertolongan Tuhan, tapi kita anggap itu sebagai hal biasa yang memang sudah seharusnya kita dapatkan atau kadang kala hanya kita anggap suatu kebetulan. Kita jarang sekali mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup kita, tetapi saat sedikit saja hal buruk menimpa hidup kita, tidak jarang dari kita segera bersungut-sungut kepada Tuhan.

Segala kesuksesan yang kita dapatkan bukanlah hasil jerih payah kita sendiri. Mungkin kita merasa Tuhan tidak turut campur atas pekerjaan tangan kita, tetapi bila kita melihat kembali langkah-langkah yang kita lakukan dalam mencapai suatu kesuksesan, pasti kita merasakan bahwa ada suatu "kebetulan" atau keberuntungan yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan teori ekonomi pun mengatakan bahwa ada yang disebut sebagai "invinsible hand". Secara tidak langsung, para ekonom dunia pun mengakui bahwa ada turut campur tangan Tuhan dalam setiap tingkat ekonomi kita.

Nehemia 6:16
Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar, bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah kami.

Dalam menjalani hidup ini, susah dan senang, sukses dan bangkrut, sakit dan sehat, dan segala yang kita alami adalah rancangan Tuhan. Tidak ada yang namanya suatu kebetulan, yang ada adalah rencana Tuhan yang sudah disiapkan bagi kita. Yang terpenting bagi kita orang percaya adalah menjalani hidup ini dengan selalu berserah pada Bapa, dan menyadari bahwa segala yang terjadi pasti memiliki arti bagi hidup kita.

Ayub 11:16-18
bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu. Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari. Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram;

Kisah Ayub sangat mewakili bahasan kita ini. Dia mampu menanggung segala yang terjadi dalam hidupnya dengan ikhlas dan berserah kepada Tuhan. Dan seperti yang kita tahu, pada akhirnya segala kesehatan dan harta benda yang dimilikinya dikembalikan berkali-kali lipat lebih baik kepadanya.

Orang dunia akan melihat hidup kita hanya dari kesengsaraan yang kita alami, maka dari itu banyak orang akan mencibir kita dengan mengatakan buat apa ikut Tuhan kalau juga mengalami kesengsaraan. Mari kita jawab hal itu dengan menjalani hidup ini dengan penuh bersyukur.



"Bersyukur adalah hal yang paling mudah kita lakukan untuk membuat hidup kita bahagia"

Ucapan yang Berkuasa



Kali ini saya hanya ingin sharing hal unik dalam hidup saya, semoga memberkati.

Beberapa hari yang lalu saya mengalami hal yang aneh, tiba-tiba mouse pada komputer saya tidak berfungsi. Device mouse tidak terdeteksi, padahal mouse dalam keadaan normal, dan dapat digunakan di komputer lain, begitu pula dengan USB port pada komputer saya, semua normal. Komputer telah saya restart berkali-kali, saya juga mencoba install device mouse saya, tapi semua tidak ada hasil. Saya sempat menanyakan pada beberapa tempat service komputer, mereka tidak tahu penyebabnya, dan menyarankan saya untuk format ulang system komputer saya. Saat itu saya mengurungkan niat saya untuk melakukannya, sebab masih banyak data yang belum saya backup. Sore harinya saya ke gereja, dan mendengar Firman Tuhan tentang kuasa dari ucapan kita bila disertai dengan iman. Saya sudah sering mendengar Firman seperti ini, yang mampu menyembuhkan orang sakit dengan ucapan, mengusir iblis dengan ucapan, dan lain-lain. Tapi saat itu saya berpikir lain, yaitu komputer saya juga sedang sakit, kenapa tidak saya doakan saja. Dengan tanpa ragu, saya doakan komputer saya, karena saya percaya bahwa Tuhan tidak hanya berkuasa menyembuhkan manusia, tetapi juga benda mati sekalipun. Keesokan harinya saat saya hendak menyalakan komputer, saya hanya pasrah, dan berniat untuk membackup data di komputer saya. Tiba-tiba saat saya menyalakan komputer, muncul tulisan "new device has been installed". Spontan saya menggerakkan mouse, dan Puji Tuhan semua berfungsi normal, dan hingga saat ini tidak ada masalah.

Mulut kita adalah suatu alat yang mampu melakukan segala hal. Mulai dari memberkati, bernubuat, bersaksi, memberikan pujian, dan mengusir iblis sekalipun. Namun sesuatu yang bahaya dari mulut kita adalah ketika ucapan kita bukanlah berasal dari Tuhan, melainkan dari dunia. Ucapan kita akan penuh dengan dusta, gosip, mengumpat, bahkan kutukan. Tuhan Yesus pernah mengucapkan dengan tegas bahwa kita harus berhati-hati dengan ucapan kita. Bahkan Tuhan Yesus menyebutkan bahwa kenajisan datang dari ucapan kita. 

Matius 15:11
Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.

Yakobus juga mengungkapkan hal yang sama tentang lidah atau ucapan, yaitu lidah berkuasa untuk melakukan perkara-perkara besar. 

Yakobus 3:5
Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

Yakobus 3:9-10
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

Dari mulut yang sama tidak benar apabila keluar berkat dan kutuk. Maka dari itu, kita harus memilih, apakah yang mau keluar dari mulut kita. Apakah kata-kata yang menjatuhkan atau kata-kata yang membangun.

Untuk memiliki ucapan yang positif, tentu saja kita harus selalu dekat dengan Tuhan, katakanlah Firman Tuhan agar Firman tersebut selalu hidup dalam setiap ucapan kita. Selalu pikirkan segala yang kita ucapkan, apakah hal itu akan menyakiti orang lain, menjadi batu sandungan, ataukah justru mampu mendatangkan berkat bagi orang lain? Selalu seleksi perkataan kita, niscaya perkataan kita tidak akan pernah sia-sia. Ucapkanlah segala sesuatu seakan-akan kita berbicara kepada Tuhan, dan Tuhan akan selalu mendengar apa yang kita ucapkan. Dan Tuhan akan selalu berada di dekat kita untuk memberikan kuasa atas ucapan kita.

"Ucapan bagaikan pedang bermata dua yang mampu mengutuk
dan memberkati diri sendiri dan orang lain"


Memberi


Belakangan ini banyak sekali kabar tentang gelandangan dan pengemis "palsu". Mereka sebenarnya hanya memanfaatkan keadaan dengan berprofesi sebagai gelandangan dan pengemis, padahal ternyata mereka berkecukupan, bahkan telah ditemukan bahwa ada beberapa dari mereka sudah dapat dikategorikan sebagai orang kaya. Menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah kita memberikan peraturan yang melarang masyarakat memberikan uang terhadap gelandangan dan pengemis yang meminta-minta.

Sebagai orang Kristen, tentu hal ini menjadi masalah yang sangat mengganggu. Di satu sisi, kita memiliki kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan, tetapi di sisi lain, telah ditemukan fakta yang membuat kita enggan membantu mereka. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Galatia 2:10
hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.

Paulus menuliskan kepada jemaat Galatia, bahwa dia memberikan perhatian yang lebih kepada orang-orang miskin. Dan hal itu juga sangat didukung oleh Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yang juga dianggap sebagai sokoguru jemaat (guru besar).

Amsal 14:31
Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Salomo juga menuliskan bahwa belas kasihan terhadap orang miskin sama dengan memuliakan Tuhan.

Dengan berlandaskan kebenaran, kita tahu bahwa membantu orang miskin harus kita lakukan. Hanya saja, kita butuh hikmat yang lebih untuk "menyeleksi" orang-orang yang berpura-pura miskin. Yang perlu kita lakukan adalah meminta hikmat tersebut dari Tuhan kita yang penuh hikmat dan mengetahui segalanya.

Lain daripada itu, masih banyak cara yang dapat kita lakukan bila kita mau memberi orang miskin, misalnya dengan bakti sosial di lokasi perkampungan yang kumuh, panti asuhan, dan beberapa tempat lainnya yang memang kita tahu bahwa mereka membutuhkan taraf hidup yang lebih baik lagi.

Janganlah fenomena orang miskin palsu ini menjadi penghalang bagi kita untuk dapat memberi dan menaruh belas kasihan terhadap mereka. Kasih Tuhan tidak akan bisa terhalang oleh apapun. Bila kita mau memberi dengan kesungguhan hati kita dan berlandaskan kasih Kristus, percayalah bahwa hal itu pasti akan berdampak kepada mereka. Yang terpenting adalah jangan membatasi diri kita dari kasih untuk memberi, sebab Tuhan Yesus mau melakukan sesuatu yang lebih melalui hidup kita. Rencana Tuhan akan selalu tergenapi melalui hidup kita asalkan kita mau berjalan bersama Tuhan.

"Memberi tidak akan mengurangi berkat anda, tapi memberi dapat memberkati yang menerima"

Mengampuni??


Saya seringkali mendengar bahwa kata maaf adalah kata yang susah diucapkan. Sebab saat kita mengucapkan maaf kepada seseorang, itu sama saja kita mengakui bahwa kita memang salah terhadap dia. Tapi menurut saya itu hal yang wajar dan harus dilakukan, apalagi kita menyadari bahwa kita memang salah.

Saat saya sedang berpikir tentang maaf, tiba-tiba saya berpikir sebaliknya. Bagaimana jika kita di posisi sebaliknya, yaitu ada orang yang minta maaf kepada kita. Apakah mengampuni sama susahnya dengan meminta maaf?

Dalam menjalani hidup ini, seringkali kita menjumpai permasalahan, baik dengan teman, rekan kerja, saudara, orang tua, dan hampir dengan semua orang yang dekat dengan kita. Pertanyaannya adalah sejauh mana permasalahan itu berdampak pada kehidupan kita? Bila permasalahan itu hanya permasalahan kecil, mungkin kita dapat dengan mudah mengampuni, melupakan, dan mengambil sisi positif dari permasalahan itu. Namun apa yang terjadi bila permasalahan itu membuat kita sakit hati, kecewa, atau bahkan membenci orang yang bermasalah tersebut? Bisakah kita tetap mengampuninya dan move on??

Matius 6:14-15
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Saat membaca ayat tersebut, saya segera mengingat tentang kesalahan saya terhadap Tuhan. Kita bisa saja dengan mudah membuat hati Tuhan kecewa akan janji-janji kita kepadaNya yang seringkali kita langgar, lalu dengan mudah kita hanya mengaku salah, minta maaf, lalu jatuh lagi ke dalam dosa. Lalu kita minta maaf lagi, jatuh lagi, dan begitu seterusnya. Bila kita menjadi Tuhan, mungkin kita sudah tidak bisa mengampuni lagi, sebab itu semua seperti "janji palsu" yang dapat dengan mudah dilanggar. Tapi beruntunglah kita karena memiliki Tuhan yang luar biasa. Tuhan mau mengampuni kita sesering apapun kita jatuh. Tuhan memiliki hati yang penuh kasih, dan Dia sangat membenci kesalahan kita, namun Dia menyayangi kita melebihi apapun. Dan Tuhan hanya ingin memberi kita kesempatan untuk tidak membuatNya kecewa lagi.

Memahami kasih Tuhan dan menerapkannya dalam hidup kita ini sangat tidak mungkin. Sebab tidak ada dalam akal sehat manusia, yang mampu dan mau mengampuni sesering Tuhan mengampuni kita. 

Matius 18:21-22

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sangat mustahil kita masih bisa memberikan pengampunan bila orang tersebut berbuat salah berkali-kali kepada kita. Namun kita juga harus sadar bahwa kita juga melakukan hal yang sama terhadap Tuhan. Maka janganlah melihat seberapa sering atau besar kesalahan orang lain terhadap kita, namun refleksikan dahulu seberapa sering dan besar kesalahan kita terhadap Tuhan dan Dia tetap mau mengampuni kita.

Mintalah pada Tuhan kekuatan dan kasih untuk mengampuni kesalahan orang lain. Seberapa besar kesalahan yang orang lain buat kepada kita, mereka juga memiliki hak untuk diampuni. Mengampuni akan memberikan kita kedamaian. Kebencian dan kemarahan adalah hal yang wajar dimiliki oleh manusia, tapi sebagai orang Kristen, kita harus menjadi manusia yang berbeda dengan manusia dunia. Kita memiliki Tuhan yang penuh kasih, dan Dia siap untuk membagikan kasihNya kepada kita yang mau belajar untuk semakin serupa denganNya.

"Mungkin ada banyak alasan saat orang berbuat salah, 
tapi perlukah alasan untuk mengampuni?"