Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 09 Juli 2015

Penghambat Berkat Tuhan



Di Indonesia pada saat menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya tukang parkir dan pedagang asongan yang selalu beraktivitas di dekat suatu perusahaan atau kantor, akan mendapatkan THR dari pimpinan perusahaan tersebut. Tetapi suatu hal unik terjadi. Terdapat seorang pemilik sebuah perusahaan, dia juga berkeinginan untuk memberikan THR kepada orang-orang di sekitarnya. Tetapi dia tahu bahwa ada satu orang tukang parkir yang tidak disenangi olehnya, sebab dia selalu memarkirkan kendaraan di depan pintu perusahaannya, padahal sudah sering diperingatkan agar jangan diparkir di depan pintu. Dia berniat tidak memberikan THR kepada satu orang ini. Akhirnya dia mengamati tukang parkir ini untuk mengetahui kapan waktu dia istirahat. Setelah mengetahuinya, besoknya dia berencana memberikan THR pada waktu jam si tukang parkir ini beristirahat. Terjadilah saat itu, si pemilik perusahaan ini dengan senang hati berbagi THR pada saat orang yang tidak disenanginya ini beristirahat. Semua orang di sekitar perusahaan itu bersuka cita, tetapi terdapat satu orang yang tidak mengerti apa-apa dan ini disebabkan karena kesalahannya sendiri.

Sedikit cerita di atas mungkin membuat kita tersenyum, karena mungkin itu juga yang akan kita lakukan bila kita jadi pemilik perusahaan itu. Tetapi sadarkah kita bila kita ternyata bukan berada dalam posisi pemilik perusahaan, melainkan kita adalah tukang parkir yang bandel tersebut?

Kadang kita merasa bahwa berkat Tuhan semakin hari semakin berkurang dalam hidup kita, bahkan mungkin ada yang merasa tidak diberkati sama sekali. Mungkin saat itu kita merasa sudah melakukan segala yang terbaik dalam usaha dan pekerjaan kita, tetapi tidak membuahkan hasil yang baik. Atau kita juga sering merasa bahwa ada beberapa orang yang tidak berusaha keras seperti kita, tetapi memiliki berkat yang berkelimpahan. Dan bahkan kita sering merasa bahwa berkat yang seharusnya kita dapatkan, ternyata diperoleh oleh orang lain.

Yesaya 59:2
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

Firman Tuhan menyebutkan bahwa dosa adalah pemisah antara manusia dan Tuhan. Bahkan saat kita berdoa dan berseru kepada Tuhan, Ia tidak akan mendengar doa kita karena segala dosa kita. Saat itulah berkat yang seharusnya kita terima, ternyata tidak kunjung datang. Tuhan tidak akan pernah berhenti memberikan berkat-Nya, tetapi pada saat giliran kita mendapatkan berkat itu, kita seringkali terhalang oleh dosa-dosa kita.

Galatia 5:19-21
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Bila hal ini menimpa kehidupan kita saat ini, janganlah mencari alasan mengapa berkat Tuhan tidak kita rasakan, tetapi perbaikilah hidup kita agar menyenangkan hati Tuhan. Tinggalkanlah hal-hal duniawi, walaupun memang akan sangat susah selama kita masih hidup di dunia ini, tetapi dengan bimbingan Tuhan, kita pasti bisa melawan segala keinginan daging. Hendaklah kita hidup bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita, sebab berkat sesungguhnya akan datang saat kita tetap dan selalu setia kepada-Nya.

== dosa memberikan kenikmatan duniawi, tetapi menghalangi kenikmatan sorgawi ==

Rabu, 24 Juni 2015

Zona Nyaman



Yosua 1:6-9
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Dua tahun yang lalu, saya sangat antusias ketika bermimpi untuk membuka usaha baru. Saya memiliki mimpi-mimpi besar seperti yang dijanjikan Tuhan. Tetapi itu hanyalah permulaan saja, pada saat seminggu sebelum hari pertama saya bekerja secara mandiri di usaha saya sendiri, muncul perasaan yang sangat tidak enak. Saya khawatir, takut, galau, dan berbagai macam perasaan negatif, bahkan muncul perasaan bahwa saya telah salah langkah dalam mengambil keputusan tersebut. Tetapi puji Tuhan, saya mampu melewatinya, dan sekarang saya sudah menikmati hasil dan janji-janji besar dari Tuhan.

Mungkin perasaan ini juga dialami oleh Yosua. Semula dia adalah seorang asisten dari Musa, orang kepercayaam Tuhan. Hidupnya bisa dibilang sudah enak, dan punya jabatan yang baik. Tetapi Tuhan punya rencana yang lebih baik bagi kualitas hidupnya. Tuhan ingin menjadikan Yosua pemimpin bagi bangsa Israel untuk menuju tanah perjanjian. Saya yakin Yosua sangat antusias menerima panggilan Tuhan, tetapi di dalam pikirannya pasti Yosua juga merasakan khawatir dan ketakutan yang luar biasa, sebab dari yang sebelumnya hidupnya sudah di posisi yang nyaman, kini harus menjadi pemimpin menggantikan Musa, yang pastinya memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Zona nyaman selalu susah untuk ditinggalkan. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak menyukai zona nyaman, sebab itulah kodrat manusia, yaitu selalu ingin hidup tanpa tantangan. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk tinggal dalam zona nyaman kita, tetapi Tuhan selalu memiliki tingkat kualitas yang lebih besar bagi kehidupan kita. Dan untuk mencapai tingkat tersebut, saat itulah Tuhan mengharuskan kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman kita.

Yosua yang adalah pemimpin besar pun takut saat melangkah keluar dari zona nyamannya, dan Tuhan mengetahuinya. Maka dari itu dalam bacaan di atas, Tuhan mengatakan "kuatkan dan teguhkanlah hatimu" kepada Yosua sampai tiga kali. Yosua dan kita pasti mengerti bahwa tujuan kita adalah hal yang sangat baik bagi kita, namun ketakutan saat menjalankannya yang sering membuat kita ragu. Tuhan hanya mengingatkan agar kita selalu bersandar kepada-Nya, tetapi Tuhan tidak menjelaskan secara rinci bagaimana Dia akan menolong kita dalam setiap tantangan yang akan kita hadapi. Di sanalah iman kita diuji, yakinkah kita akan pertolongan Tuhan? Atau justru kita memilih untuk mundur dari jalan yang sudah disiapkan Tuhan?

Daging kita memang lemah dan akan selalu membuat kita ketakutan, tetapi saat kita mampu mengalahkannya, dan memiliki iman kepada Tuhan, maka saat itulah Tuhan dapat bekerja. 

Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Janji Tuhan mungkin hanya berupa angan-angan dan harapan yang menurut kita tidak bisa kita harapkan, Tetapi dengan iman, kita dapat meyakini bahwa janji Tuhan dapat terwujud. Kita tidak akan naik level saat kita selalu menyerah kepada daging dan tinggal dalam zona nyaman terus menerus. Tetapi kita akan merasakan kepuasan saat kita sadar bahwa kita sudah mengalahkan daging, dan kita sedang menikmati janji Tuhan yang semula kita rasa adalah hal yang mustahil.

" Zona nyaman memang enak, 
tetapi belum tentu aman untuk masa depan kita "

Rabu, 06 Mei 2015

Positive Thinking



Pernah ada seorang rekan berdiskusi dengan saya tentang berpikir untuk masa depan, atau dengan kata lain tentang prasangka. Rekan saya ini berkata bahwa dia selalu berpikir tentang hal terburuk yang akan terjadi, sedangkan saya selalu mengutamakan berpikir positif. Dia berkata bahwa penting untuk mengantisipasi segala hal yang terjadi. Menurutnya bila selalu berpikir positif, kita tidak akan siap bila harus menghadapi kegagalan.

Manakah dari pemikiran tersebut yang benar? Terlalu berpikir positif memang susah diterapkan di dunia modern ini. Mengantisipasi memang perlu dilakukan, meskipun kita sudah berpikir positif, sebab bila tidak, itu sama saja berlaku dengan sembrono.

Ayub 3:25
Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.

Berpikir negatif memiliki banyak hal buruk di dalamnya. Pertama, berpikir negatif hanya merusak diri sendiri, sebab yang ada di pikiran kita hanyalah kegagalan, kesalahan, keburukan, dan sebagainya. Tentu ini tidak sehat bila ada terus menerus dalam pikiran kita. Bahkan banyak orang tua kita juga sering mengatakan bahwa janganlah kita berpikir buruk, nanti akan benar-benar kejadian. Hal ini serupa dengan yang dituliskan dalam kitab Ayub.

1 Korintus 13:7
..., (kasih) percaya segala sesuatu, ... 

Dan yang kedua adalah membuang kesempatan yang datang, baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Saat kita dihadapkan dengan kesempatan dan kita tidak mengambilnya karena pikiran-pikiran jelek kita, maka saat itu kita sudah melewatkan kesempatan yang belum tentu akan datang lagi pada hidup kita. Apalagi bila yang dihadapkan kepada kita adalah orang yang harus kita percayai atau tidak, dan kita langsung menolaknya, maka saat itu kita juga sudah menghilangkan kesempatan orang tersebut. Salah satu sifat anak Tuhan adalah memiliki kasih, dan salah satu sifat kasih adalah percaya segala sesuatu.

Positive thinking bagi saya bukanlah pertanyaan tentang penting atau tidak, namun merupakan keharusan, sebab semua yang dihadapkan kepada kita adalah rencana yang sudah Tuhan persiapkan bagi kita. Memang antisipasi selalu perlu kita lakukan, tetapi bukan berarti kita mempersiapkan antisipasi karena kita takut, melainkan karena kita butuh hasil yang lebih baik, Hidup dengan berpikir positif harus disertai dengan hikmat Tuhan, agar kita selalu siap menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan ini.

"Positive thinking akan membuka kesempatan-kesempatan yang hilang"

Kamis, 16 April 2015

Mengemudi



Perjalanan dalam kehidupan dapat kita analogikan dengan kegiatan mengemudi.
  • Kemudi / setir harus kita kendalikan sendiri. Sebab saat banyak yang memegang kemudi kita, kehidupan kita akan kacau, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan kecelakaan.
  • Saat mengemudi, yang terpenting adalah melihat ke depan. Saat kita berjalan lurus, yang perlu kita lihat adalah ke arah yang kita tuju. Itulah sebabnya mengapa kaca di depan mobil kita memiliki ukuran yang lebih besar dibanding kaca yang lain.
  • Kaca spion selalu dibuat dengan ukuran kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak selamanya boleh melihat ke belakang. Spion hanyalah alat bantu agar kita dapat pindah lajur dan berbelok untuk menghadapi masalah yang ada di depan kita.
  • Walaupun spion sepertinya kecil dan tidak diperlukan, sebetulnya spion tetap merupakan hal yang penting. Melihat ke belakang atau masa lalu itu boleh, tapi hanya untuk referensi kita dalam menghadapi masa depan. Bahkan banyak kecelakaan terjadi karena banyak orang tidak melihat spion. Tetapi ingat, spion hanya untuk referensi, bukan untuk selamanya melihat ke belakang, fokus kita tetaplah masa depan.
  • Gas dan rem adalah instrumen penting dalam sebuah kendaraan. Sebab tidak ada gunanya mobil bila tidak bisa melaju, dan akan sangat berbahaya saat mobil yang terlalu cepat dalam melaju tidak bisa berhenti. Kehidupan juga seperti itu, dalam melaju ada saatnya kita butuh kecepatan penuh, tetapi itu akan membuat kita terjatuh dalam sifat individual dan ambisius. Dibutuhkan rem untuk menghentikan ambisi kita, dan lebih mempedulikan yang lain. Kecepatan penuh memang dapat mempercepat laju kita, tetapi juga sangat berbahaya.
  • Master brake / hand rem harus digunakan saat sedang parkir, apalagi bila tempat parkir kita bukanlah tempat datar. Ada saatnya kita harus berhenti di suatu titik dalam hidup kita, seperti menikmati posisi pekerjaan kita sekarang, menikmati masa-masa liburan, dan sebagainya. Hal ini menyenangkan, sebab seakan kita tidak perlu melakukan apa-apa, tetapi bila kita tidak memasang rem dalam kehidupan kita, bisa-bisa kita tidak hanya parkir, melainkan malah membuat kehidupan kita mundur dari tempat parkir kita. 
  • Rambu-rambu dan lampu lalu lintas selalu saja kita temui di setiap jalan. Semakin besar jalan raya itu, semakin banyak rambu-rambu lalu lintas. Mungkin kita sering merasa bahwa semakin dewasa ini, semakin banyak aturan-aturan yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan kita. Itu tandanya bahwa kehidupan kita semakin berkembang. Tetapi tentu saja aturan-aturan itu dibuat bukan untuk membatasi laju kehidupan kita, melainkan untuk mengatur pola dan tingkat kehidupan kita.
Perjalanan memang selalu memiliki tantangan tersendiri, kadang hujan, kadang panas, kadang macet, bahkan mengantuk pun bisa menjadi halangan. Maka dari itu kita perlu sigap dan selalu siap dalam menyetir. Begitupun dengan menjalani kehidupan. Bersandarlah pada Tuhan setiap saat, sebab tantangan akan selalu muncul untuk menghalangi laju kehidupan kita.

Mazmur 121:7-8
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Tersesat adalah hal yang biasa, tetapi mampukah kita 
menemukan kembali jalan yang benar?

Minggu, 12 April 2015

Perlukah alasan untuk menolong?



Pada saat saya kuliah, saya pernah diberi kesempatan untuk study tour ke suatu gedung perkantoran. Setelah selesai, saya berencana untuk kembali ke kampus bersama seorang teman. Saat sedang menuruni lift, kami berpapasan dengan seorang bapak yang tidak kami kenal. Bapak itu cukup ramah dan mengajak kami berbicara, dan dia menanyakan kami dari universitas mana, sebab kami saat itu memang sedang memakai jas almamater. Singkat cerita dia mengetahui kalau kami sedang menuju ke kampus, dan dia berniat untuk menumpang mobil saya, dan turun di halte yang akan kami lewati. Tanpa pikir panjang, saya perbolehkan bapak itu untuk menumpang. Kami pun berangkat, dan sampai di halte, bapak itu pun turun dan berterima kasih. Sesaat setelah bapak itu turun, teman saya dengan cepat memeriksa kursi belakang kami, dia mencari-cari sesuatu, dan akhirnya tidak menemukan apa-apa, dan teman saya berkata, "Hati-hati dengan orang seperti itu, yang ditakutkan itu kalau dia meninggalkan barang-barang yang berbahaya."

Memang dewasa ini jaman sudah berubah, semua orang memiliki sifat yang serba berhati-hati. Prasangka buruk terhadap orang lain selalu muncul hampir dalam pikiran kita. Justru saat kita terlalu baik terhadap seseorang, justru kita dianggap bodoh, dimanfaatkan, lugu, ceroboh, mudah ditipu, dan sebagainya. Ada orang yang berpendapat bahwa tidak semua orang patut ditolong, kadang justru ada orang yang berpura-pura untuk ditolong. Namun bila kita berpikiran seperti itu, lalu bagaimana saat ada orang yang benar-benar butuh ditolong, namun tidak kita tolong. Saat kita ingin berbakti sosial dengan menyumbang ke panti asuhan, biasanya kita mengajak teman-teman kita untuk bergabung, tetapi pasti selalu ada yang bilang, "panti asuhan itu sudah kaya, banyak yang menyumbang." Kalimat ini tentu sudah biasa dan tidak jarang kita dengar.

Kisah Para Rasul 4:32
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Dalam kehidupan jemaat mula-mula, semua memiliki pemikiran bahwa mereka harus berbagi. Itulah wujud kasih yang ditampilkan pada cara hidup berjemaat yang pertama. Apakah saat itu tidak ada pemikiran yang negatif menanggapi hal tersebut? Tentu ada, sebab yang namanya manusia pasti akan memiliki sifat duniawi yang akan selalu menentang cara hidup yang benar. Namun dengan hidup berkelompok dengan komunitas yang baik, sifat duniawi tentu akan semakin mudah ditekan. Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan kita di jaman sekarang.

Memang dibutuhkan hikmat agar kita mampu mengerti apa yang baik dan yang benar, dan ini berlaku juga saat kita memberikan pertolongan kepada orang lain, siapakah yang butuh dan layak kita tolong. Tetapi percayalah bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia (1 Kor 15:58). Dalam setiap melakukan kegiatan, landaskanlah semuanya itu untuk Tuhan.

"Walaupun kita salah langkah, Tuhan mampu memakai kesalahan kita
menjadi berkat yang tidak terduga sehingga tidak akan ada hal yang sia-sia"

Rabu, 18 Maret 2015

Sabar Tanpa Batas




"Cukup sudah, habis kesabaranku!!"
"Sesabar-sabarnya orang, kesabaran itu ada batasnya!!"
"Aku sudah tidak bisa sabar lagi, ini sudah keterlaluan!!"

Mungkin ungkapan-ungkapan itu tidak jarang hinggap dalam hidup kita, entah karena kita mendengar dari orang lain, atau justru kita sendiri yang mengucapkannya. Sabar adalah suatu topik yang cukup menarik bagi saya, sebab sabar disebutkan pertama kali sebagai arti kata dari kasih (1 Korintus 13:4). Hal ini membuat saya selalu mengingat bahwa definisi yang pertama dari kasih adalah sabar. Namun tidak pernah ada Firman Tuhan yang menyatakan tentang batas-batas kesabaran, hal ini yang sering menjadi alasan bagi banyak orang untuk meraba-raba bahwa sabar harus dibatasi.

Mazmur 103:8
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Amsal 14:17
Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

Amsal 14:29
Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Firman Tuhan, khususnya melalui Mazmur dan Amsal banyak mengungkapkan tentang betapa positifnya kesabaran. Banyak sekali himbauan untuk menjadi orang yang sabar dan tidak mudah marah. Tetapi itu bukan berarti tidak boleh marah. 

Menurut saya, kehabisan kesabaran dan marah adalah hal yang berbeda. Kehabisan kesabaran berarti terbawa emosi dalam situasi yang seharusnya masih dapat kita selesaikan, dan itu merupakan dosa. Namun marah adalah situasi karena ada suatu hal yang salah dan marah harus diwujudkan sebagai tindakan yang benar. Beberapa hari yang lalu saya sempat mendengar seorang penginjil mengatakan, "Saat kita harus marah, dan kita tidak marah, berarti kita berdosa." Saya cukup sepakat dengan kalimat tersebut, sebab pada kondisi tertentu marah dibutuhkan, tetapi sekali lagi itu karena terdapat kesalahan yang harus diselesaikan. Seperti Tuhan Yesus saat marah karena Bait Suci digunakan sebagai tempat berdagang. Tentu saja Tuhan Yesus harus marah, karena mendapati ketidakbenaran yang terjadi.

Kembali ke topik tentang kesabaran, Firman Tuhan tidak pernah memberikan batas terhadap kesabaran, justru Firman Tuhan selalu menyarankan untuk menjadi sabar. Tetapi manusia yang selalu bergelut dengan dosa, perlahan-lahan memberikan batas terhadap kesabarannya dalam diri sendiri. Dan itu sudah berlangsung sejak dulu hingga sekarang, dan itu yang membuat setiap manusia berpikir bahwa adanya batasan-batasan dalam bersabar.

Sekarang tugas kitalah sebagai orang percaya yang harus mampu membuat perbedaan bagi dunia yang penuh dosa ini. Bersabarlah terhadap segala sesuatu, sebab Tuhan sendiri juga panjang sabar. Dan janganlah kita marah karena kita tidak bisa mengontrol kesabaran kita, tetapi marahlah karena ketidakbenaran.

"Tidak semua orang bisa sabar, tetapi kita harus bisa"

Jumat, 06 Maret 2015

Jangan Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri



Seorang dirigen atau kondektur sebuah orchestra tampil dalam sebuah acara. Umumnya, saat seseorang tampil di suatu acara, dia akan menghadap ke arah penonton untuk mencuri perhatian semua penonton. Tetapi beda hal dengan seorang dirigen, mereka tampil dengan membelakangi penonton. Seorang dirigen tidak fokus dengan penampilannya, melainkan penampilan orang-orang yang dipimpinnya. Kalau penyanyi, pesulap, penari, dan sebagainya selalu bertujuan agar mendapat seluruh perhatian dari penonton, seorang dirigen tidak mempedulikan itu. Yang terpenting baginya adalah memberikan yang terbaik agar penonton menyukai penampilan orchestranya, tidak peduli bagaimana reaksi penonton, entah ada yang tidak suka, tidak memperhatikan, tertidur, ataupun berbicara sendiri. Bila seorang dirigen memikirkan reaksi penonton akan penampilannya, itu justru akan mengganggu pikirannya, dan membuat orchestra yang dipimpinnya menjadi kacau.

Ilustrasi tersebut bagi saya sangat berhubungan dengan Firman Tuhan dalam Filipi 2:1-4 tentang merendahkan diri seperti Kristus.

Filipi 2:1-4
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Memikirkan diri sendiri akan membawa kita kepada sifat egois, tinggi hati, dan tidak peduli terhadap sesama. Hal ini tentu tidak disukai oleh Tuhan, sebab itu bukanlah sifat kasih seperti yang diajarkan Kristus. Dengan tidak memikirkan diri sendiri, kita dituntut untuk rendah hati dan mementingkan kepentingan orang lain.

Memang di suatu saat kita akan merasa bahwa ada kepentingan dari diri kita yang tidak bisa ditawar, sebab menurut kita itu adalah prioritas utama kita dan sudah waktunya untuk diperoleh. Hal itu tidak salah, sebab Tuhan tidak pernah melarang orang memiliki kepentingan, tapi jangan sampai kita melupakan Firman Tuhan tersebut. Mencapai kepentingan kita boleh, asalkan kita tidak mencapainya untuk puji-pujian diri sendiri ataupun merugikan orang lain.

Roma 2:8
tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.

Hukum Tuhan sangat jelas bagi mereka yang mementingkan diri sendiri, yaitu Tuhan akan murka kepada mereka yang melakukannya. Tetapi hukum Tuhan juga jelas bahwa mereka yang mementingkan orang lain, akan mendapatkan hidup kekal.

Setiap orang memang memiliki kepentingan dan urusan sendiri, namun alangkah baiknya jika kita juga mampu peduli dan mengutamakan orang lain dalam hidup kita. Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan kasih adalah sifat Kristus yang harus kita miliki. Akan tercipta suasana yang sangat indah bila setiap orang percaya mampu membangun hal ini bersama-sama.

Pasti akan lebih sedikit waktu untuk orang lain daripada waktu untuk diri sendiri, pergunakanlah!!

Jumat, 20 Februari 2015

Kasih yang besar, memiliki resiko yang besar



Salah satu tradisi yang masih sering terjadi saat kelahiran bayi adalah mencukur habis rambut sang bayi. Ada yang bilang rambut bayi dicukur agar saat bertumbuh dewasa, rambutnya semakin tebal. Namun dalam mencukur rambut sang bayi, tentu saja dibutuhkan keahlian khusus, sebab kepala bayi tentu sangat rawan dengan pisau cukur. Maka dari itu banyak sekali profesi yang melayani proses pencukuran rambut tersebut. Namun suatu keunikan terjadi dalam keluarga saya, ternyata saat saya masih bayi, orang tua saya tidak memanggil jasa pencukur rambut tersebut, ayah saya sendiri yang mencukur rambut saya dan saudara-saudara saya. Saat bercerita kepada beberapa orang, mayoritas orang menanyakan, apa tidak takut kalau nanti kepalanya tergores pisau, terluka, dan lain sebagainya. Tetapi ayah saya menjawabnya dengan berkata bahwa justru ayah saya lebih tidak percaya kalau proses yang penuh resiko tersebut diserahkan ke orang lain.

Mungkin beginilah yang dipikirkan Bapa kita saat memutuskan untuk menebus dosa manusia. Saya yakin Tuhan punya banyak cara untuk menebus dosa manusia daripada harus turun sendiri ke dalam dunia yang penuh dosa ini dan mengalami penderitaan yang tidak mudah. Namun kasih-Nya mengalahkan segala ego-Nya, akhirnya Dia memutuskan untuk turun sendiri dan menebus dengan cara dan rupa seorang manusia. Tuhan ingin secara pribadi lebih dekat dengan manusia dan melawan dosa dengan hidup kudus dan tanpa dosa.

Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Tuhan tidak mau hanya menyuruh malaikat-Nya, Dia ingin melakukan segalanya sendiri. Sebab Dia tidak percaya kepada pribadi selain diri-Nya sendiri. Dia tahu bahwa untuk menebus dan mengalahkan maut bukanlah hal yang dapat dilakukan semua orang. Dia tidak mau digantikan saat melakukan hal yang penuh resiko ini.

Roma 3:24
Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

1 Korintus 13:7
Ia (kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih-Nya menunjukkan kesabaran dalam menanggung segala resiko yang akan dihadapi. dan tentu saja hasil dari segala pengorbanan itu telah kita terima dan nikmati hingga sekarang. Hidup kekal yang seharusnya bukanlah milik kita, kini telah dikaruniakan-Nya kepada kita. Dan hanya dengan iman percaya kita kepada Kristus Yesus, kita akan diselamatkan.

Kasih Tuhan Yesus pada kita tidak perlu diragukan lagi

Jumat, 13 Februari 2015

Jangan Putus Asa


Mungkin pendeta atau hamba Tuhan sudah seringkali memberitakan Firman Tuhan mengenai tema ini. Kebanyakan mereka akan mengatakan selalu ada harapan, serahkan semuanya kepada Tuhan, selalu ada jalan, mintalah pada Tuhan maka kamu akan mendapatkan, jangan khawatir akan hari esok, dan lain sebagainya. Perkataan mereka benar, sebab memang tertulis di dalam Firman Tuhan. Hal tersebut juga dapat kita tiru, dan kita katakan pada teman-teman kita yang sedang mengalami perasaan putus asa ini. Namun pernakah anda berpikir, bila orang terdekat anda (pasangan hidup, orang tua, anak, atau sahabat) sedang curhat kepada anda tentang beban hidupnya, bisakah kita HANYA mengatakan hal-hal seperti itu. Tentu bisa, namun itu tidak akan menyelesaikan masalah. Orang terdekat kita tentu berbagi kisah hidupnya dengan kita dengan harapan kita dapat membantu meringankan beban hidupnya, bukan hanya "mendengarkan ceramah" yang sejatinya sudah sering dia dengar dari orang lain.

Di sini saya ingin berbagi dengan orang-orang yang sedang mengalami beratnya beban hidup dan hampir putus asa. Mungkin yang saya bagikan akan menjadi teori juga bagi anda, namun saya hanya ingin berbagi kisah yang pernah saya alami. Saya sekarang bekerja sebagai wiraswasta, dan saya memulai profesi ini dengan tiba-tiba. Sebelumnya saya adalah seorang salesman dari sebuah perusahaan property yang cukup besar di Indonesia. Pendapatan saya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta setiap bulannya, dan itu adalah hal yang sangat besar bagi seseorang yang baru lulus kuliah. Sampai setelah lewat 1 tahun, saya mulai menemukan pasangan hidup dan saya meyakinkan diri saya sendiri, bahwa saya tidak seharusnya kerja ikut orang, saya harus membuka usaha sendiri (bukan berarti kerja ikut orang itu salah, hanya pandangan saya berbeda). Singkat cerita, saya resign dari pekerjaan saya dengan mantap, dan membuka usaha sendiri di luar kota. Memang saat itu saya mencari peluang dan saya mendapatkannya di luar kota dan tidak memungkinkan saya untuk pulang setiap hari ke kota asal saya setiap hari, biasanya saya hanya pulang setiap weekend..

Tiga sampai enam bulan pertama bukanlah hal yang mudah bagi saya. Pendapatan saya secara pribadi jauh menurun dibanding pekerjaan saya sebelumnya, saya juga melihat banyak teman saya dari pekerjaan saya yang lama masih menikmati pendapatan yang seharusnya juga dapat saya miliki jika saya tidak memilih keputusan ini. Tidak hanya itu yang membuat saya tertekan, saya tinggal di kota orang sendirian tanpa ada yang menemani. Hiburan saya hanya TV, laptop, dan Ipad saya. Kesendirian ini yang seringkali dimanfaatkan oleh roh-roh jahat untuk mengganggu kita. Gangguan itu bisa berbentuk apa saja, dan yang paling sering hinggap dalam pikiran saya adalah perasaan putus asa. Iblis berkali-kali mengatakan bahwa saya salah arah, Tuhan menyesatkan saya, dan saya tidak punya teman.

Tetapi puji Tuhan saat itu Tuhan sungguh-sungguh mengasihi saya. Tuhan selalu menjaga dan membentengi kehidupan saya. Suatu saat saya mendengarkan sebuah lagu berjudul "Kau Telah Memilihku", dan lirik lagu itu begitu menyentuh hati saya.

Kau telah memilihku sebelum dunia dibentuk,
Betapa aku bersyukur padaMu, ya Tuhan, Allahku..
Kau telah memanggilku sebagai alat KerajaanMu,
Betapa aku bersyukur padaMu, atas perbuatanMu..

Mendengar lagu ini, saya merasa bahwa hidup saya berharga, dan Tuhan mengenal saya, bahkan sebelum saya mengenal diri saya sendiri. Tuhan tidak pernah salah, dan kita tidak akan tersesat selama kita selalu bersandar pada Tuhan. Saya termasuk orang yang hobi mendengarkan lagu, dan pada saat-saat tertentu Tuhan mampu berbicara melewati lagu tersebut.

Saat itu saya benar-benar tidak mengerti apa yang saya cari dari hidup saya, kesendirian benar-benar membuat saya tidak menjadi diri sendiri. Namun dibalik semua itu, dengan kesendirian yang saya alami, sisi positifnya adalah saya memiliki banyak waktu kosong, dan itu saya gunakan untuk bersekutu dengan Tuhan.

1 Yohanes 1:7
Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Yohanes 15:14
Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan.

Tuhan selalu mengingatkan saya bahwa saya tidak salah jalan, dan selalu ada rencana yang dirancang sendiri oleh Tuhan bagi hidup saya. Saat-saat tersebut memang masa kejatuhan saya, namun adakalanya saya merindukan masa-masa itu bukan karena kesusahannya, namun karena kedekatan pribadi saya dengan Tuhan yang begitu dalam. Yang terpenting adalah Tuhan, dan saya selalu mencari-Nya setiap waktu.

Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Sekarang saya telah melewati masa-masa suram tersebut. Saya tidak melakukan hal-hal yang luar biasa, saya hanya mencari Tuhan setiap waktu, dan berkat selalu berdatangan bagi kehidupan saya. Pekerjaan saya sudah berjalan lancar, kehidupan saya kembali stabil, dan kebahagiaan selalu ada dalam hidup saya.

Saya hanya ingin berbagi kepada anda yang sedang mengalami beban hidup yang berat, dan saya hanya mau mengatakan bahwa anda berharga bagi Tuhan, carilah Tuhan setiap waktu, dan Dia tidak akan membiarkan anda jatuh tergeletak.

Tempatkan Tuhan di tempat yang pertama

Rabu, 07 Januari 2015

Suara Hati Nurani



Banyak pendapat orang mengenai suara hati. Bahkan ada yang beranggapan suara hati hanyalah akal-akalan setiap orang untuk dibenarkan perilakunya. Memang suara hati tidak bisa dibuktikan kepada orang lain, sebab memang hanya diri kita sendiri yang mampu mendengar dan merasakannya.

Bila kita melihat dari sisi Firman Tuhan, ternyata suara hati nurani pernah dibahas oleh Paulus. Menurutnya, suara hati akan bersaksi demi kebenaran dan akan terjadi saling tuduh atau saling bela terhadap pikiran kita. Hal ini seringkali diilustrasikan dalam film kartun dimana terdapat malaikat dan iblis yang saling mempengaruhi pikiran kita saat kita sedang galau. Ternyata hal ini memang akan dialami bila hati nurani kita tidak sreg dengan pikiran dan keputusan kita.

Roma 2:15
Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

Hati nurani yang murni memang berasal dari Tuhan, dan kita wajib menjaga kemurnian hati kita dengan tidak mengotorinya. Hati nurani selalu berusaha mengingatkan kita bagaimana cara kita berperilaku, berbicara, beribadah, bahkan hanya berpikir sekalipun. Tuhan akan selalu bekerja dalam setiap orang melalui hati yang murni.

Paulus juga menyadari hal ini, maka dari itu dia selalu menjaga hidupnya dengan hal yang sesuai dengan kehendak hati nuraninya. 

Kisah Para Rasul 24:16
Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.

Menjaga kemurnian hati nurani memang tidak mudah. Mungkin bila di hadapan manusia, kita bisa menutupinya, namun Paulus mengatakan bahwa menjaga kemurnian hati juga harus dilakukan di hadapan Tuhan. Tidak akan ada dosa yang dapat ditutupi dari Tuhan, sebab Dia lah yang selalu berada di dalam hati kita.

Sebenarnya bila kita menutupi dosa, kita telah menipu diri kita sendiri, dan itu tidak akan membangun kehidupan kita ke arah yang lebih baik. Sebab sesungguhnya kita sudah tahu kejelekan kita, hanya saja kita tidak mau mengakuinya. Hati nurani kita akan terus bergejolak dan akan memberontak kepada kita untuk segera mengakuinya, khususnya di hadapan Tuhan. 

Yusuke Katayama, seorang penjahat IT, yang telah menggemparkan Jepang dengan menyebarkan virus. Pada Mei 2014 kemarin Katayama mengakui kesalahannya dan menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib. Padahal sebelumnya polisi Jepang sudah sempat menangkap beberapa tersangka, termasuk dirinya, dan semuanya dilepaskan karena tidak terbukti bersalah. Dalam hal inilah hati nurani mulai bekerja, Katayama bisa saja terus menerus menghindar dan mencari alasan, sebab kejahatan IT adalah kejahatan yang sangat susah dilacak. Namun hati nuraninya berkata berbeda, dan akhirnya dia menuruti suara hatinya untuk mengakui perbuatannya.

Tuhan tidak pernah menutup kesempatan bagi mereka yang mau mengakui kesalahannya dan kembali kepada-Nya. Tuhan akan dengan terbuka mengampuni dan menyucikan kita dari segala dosa dan kejahatan kita,

1 Yohanes 1:8-9
Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Tuhan memang selalu bekerja dalam hati nurani kita, maka dari itu hendaklah kita selalu menjaga kemurnian hati kita, agar Tuhan betah tinggal di dalam hati kita, dan kitapun juga menjadi peka dengan suara-Nya. Semakin sering kita mengotori hati nurani kita, maka kepekaan kita akan suara hati nurani kita akan semakin hilang.

"jagalah kemurnian hati nurani, sebab disanalah tempat kita menyambut Tuhan kita"